Media di NTB Diminta Jangan Publikasikan Berita Sebelum Cek Fakta

Plt Kepala Dinas Kominfotik Provinsi NTB, I Gede Putu Aryadi (tengah) yang mewakili Gubernur NTB, H Zulkieflimansyah saat membuka pelatihan Cek Fakta, di Gedung Graha Bhakti Praja Kantor Guberur NTB, Ahad (24/11).

Oleh: Lalu Mandra Setiawan |

MATARAM, LOMBOKTODAY.CO.ID – Semua media dan insan jurnalistik khususnya di daerah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) wajib memverifikasi sumber informasi yang benar dan diminta untuk jangan mempublikasikan sebelum melakukan cek fakta.

‘’Perlu ada klarifikasi sebelum kita sajikan informasi akurat dengan data pendukung yang faktual, jangan hanya opini tanpa data yang akurat,’’ kata Plt Kepala Dinas Kominfotik Provinsi NTB, I Gede Putu Aryadi yang mewakili Gubernur NTB, H Zulkieflimansyah saat membuka pelatihan Cek Fakta yang diinisiasi oleh Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) Provinsi NTB bersama Google News Initiative di Gedung Graha Bhakti Praja Kantor Guberur NTB, Ahad (24/11).

Menurutnya, kegiatan pelatihan Cek Fakta merupakan bagian mewujudkan harmonisasi di NTB. Apalagi saat ini Provinsi NTB sedang menggalakkan program sebagai daerah ramah investasi dan ramah pengunjung.

‘’Informasi yang akurat, terverifikasi dan mencerdaskan adalah jawabannya demi mewujudkan NTB Gemilang. Jadi, mari kita bersama-sama mewujudkan NTB Gemilang dengan menyajikan berita-berita yang benar dan berkualitas kepada masyarakat,’’ ujarnya.

Mantan Irbansus pada Inspektorat NTB itu juga mengingatkan pentingnya pers berpegang teguh pada kode etik jurnalistik. Bahwa pers selain merupakan lembaga ekonomi yang menjalankan fungsi bisnis untuk mendapatkan profit, juga menurut Aryadi, media memiliki peran yang jauh lebih penting dan utama adalah sebagai garda terdepan dalam menjaga integritas serta perekat persatuan dan kesatuan nasional.

‘’Jangan hanya karena mengejar keuntungan ekonomi sesaat, kemudian mengabaikan kode etik jurnalistik dengan menyajikan informasi hoax atau berita sensasional, bahkan sekadar opini tanpa fakta, sehingga menimbulkan kegaduhan di tengah-tengah masyarakat,’’ ujarnya.

Beberapa tantangan pelaku media, kata Ariyadi di antaranya masyarakat (publik) tidak lagi sekadar menjadi penerima informasi, tapi juga kerap bertindak sebagai pembuat dan penyebar informasi.

Tantangan lainnya, kemajuan teknologi sekarang ini dibutuhkan kecepatan, kualitas berita yang disajikan. ‘’Percuma informasi disampaikan banyak dan cepat tetapi tidak berkualitas alias belum terkonfirmasi, malah bisa bikin gaduh dan bahkan bisa menjadi bumerang bagi kemajuan daerah,’’ katanya.

Sementara itu, Trainer Google News Initiative, Rony Adolf Buol mengatakan, betapa banyak masyarakat yang membagikan dan menyebarkan berita hoax, palsu, bahkan fitnah. Tidak hanya orang awam bahkan elit pun tidak luput dari kasus yang satu ini. Sebagian dari pelaku penyebaran berita hoax tersebut bukan karena sengaja menyebarkan kepalsuan, namun faktornya adalah ketidakmampuan mendeteksi dengan baik apakah berita tersebut benar atau hoax. ‘’Pelatihan Cek Fakta menjadi sangat penting, agar masyarakat dapat mengetahui dengan lebih mudah sebuah berita benar atau hoax,’’ kata Rony.

Ketua AMSI NTB, TGH Fauzan Zakaria mengatakan, pelatihan Cek Fakta penting dilakukan untuk mencegah informasi bohong atau hoaks. Karena seringkali berita dan informasi hoaks beredar di media sosial, dan hal ini harus diluruskan melalui media mainstream termasuk media online. ‘’Kemajuan teknologi informasi saat ini membuat penyebaran berita bohong atau berita fitnah sangat mudah di tengah-tengah masyarakat. Karenanya, tugas media online adalah menyaring info itu fakta atau hoaks, kemudian memberikan pencerahan informasi ke masyarakat,’’ katanya.

Fauzan berharap ke depan Pemerintah Provinsi NTB maupun seluruh kabupaten/kota bisa bekerja sama dengan AMSI untuk membuat pelatihan dan penguatan kapasitas para pelaku media. ‘’Kami juga berharap ada kerja sama berkelanjutan Pemprov maupun seluruh kabupaten/kota di NTB dengan media,’’ ujarnya.(Sid)

Kirim Komentar

Leave a Reply