Gubernur NTB: Tak Ada Alasan Lagi Untuk Tidak Gunakan Mesin Buatan Sendiri

Gubernur NTB, H Zulkieflimansyah saat meninjau langsung proses uji kelayakan untuk mendapatkan SNI bagi berbagai produk mesin hasil karya putra-putri NTB, di STIP Banyumulek.

Oleh: Lalu Mandra Setiawan |

LOBAR, LOMBOKTODAY.CO.ID – Sebanyak 19 mesin produksi Industri Kecil Menengah (IKM) di NTB menjalani tes report atau uji kelayakan agar mendapat Standar Nasional Indonesia (SNI). Pengujian Alat Mesin Pertanian (Alsintan) tersebut dilakukan oleh Balai Besar Pengembangan Mekanisasi Pertanian (BBP Mektan), di STIP Banyumulek, Kabupaten Lombok Barat, Provinsi NTB, Kamis (5/12).

‘’Kalau sudah lolos uji kelayakan, maka nggak ada alasan lagi bagi kita untuk tidak menggunakan mesin-mesin buatan sendiri di NTB,’’ kata Gubernur NTB, H Zulkieflimansyah saat meninjau langsung proses uji kelayakan untuk mendapatkan Standar Nasional Indonesia (SNI) bagi berbagai produk mesin hasil karya putra-putri NTB tersebut.

Gubernur Zul mengatakan, program industrialisasi yang ditujukan untuk meningkatkan produktivitas di sektor pertanian, peternakan, perikanan, kelautan dan sektor-sektor industri lainnya, harus dimulai dengan mengembangkan industri permesinan. Menurutnya, dengan hadirnya industri permesinan ini, maka akan meningkatkan produktivitas di berbagai sektor usaha ekonomi produktif.

Gubernur Zul juga menyatakan industrialisasi tidak semudah membalik telapak tangan. Tapi butuh proses, ketekunan dan perjuangan, sehingga tidak bisa langsung jadi. Karena jalannya panjang, berliku, dan mendaki. ‘’Hanya tekad dan kemauan yang kuatlah yang akan membuat kita optimis dan berhasil,’’ ujarnya.

Gubernur Zul menilai hasil karya anak-anak NTB ini, sangatlah inovatif. Sehingga dengan mesin-mesin itu, kelak akan sangat memudahkan kerja manual menjadi lebih cepat. ‘’Inilah era menuju industrialisasi di NTB,’’ ucapnya.

Ketua Tim Pengujian Alat Mesin Pertanian (Alsintan) Balai Besar Pengembangan Mekanisasi Pertanian (BBP Mektan), Dr Teguh Wikan Widodo mengatakan, uji kelayakan dan uji sertifikasi penting dilakukan, sebagai salah proteksi kepada konsumen sebelum suatu produk diedarkan kepada masyarakat.

Menurutnya, sebelum alat beredar di pasaran dan ikut tender di LKPP, salah satu persyaratan yang harus dipenuhi dan dimiliki adalah tes report. ‘’Ini untuk melindungi konsumen, sehingga alat-alat yang digunakan sudah memiliki kinerja yang berstandar SNI. Bila belum ada, maka harus diusahakan dengan pendekatan ilmiah,’’ kata Teguh Wikan Widodo.

Ia juga menjelaskan bahwa, mesin yang dibuat dikatakan layak bila bahan dan alat yang dipergunakan juga sesuai dengan SNI. Contohnya Treser, memiliki standar SNI, khusus Treser baik itu kapasitas, ukuran dan lainnya sesuai kesepakatan pabrik di Indonesia. ‘’Jadi, yang belum lulus uji kelayakan, kita dorong untuk memperbaiki alatnya agar memenuhi kelayakan sesuai SNI, misalnya keamanan dan kualitas produk yang dihasilkan,’’ ujarnya.

Kepala UPTD STIP NTB, M Khairul Ihwan mengatakan, IKM ini adalah binaan Dinas Perindustrian Provinsi NTB. ‘’STIP hanya mengawal pengembangan teknologi usahanya,’’ kata Iwan.

Menurutnya, keseriusan Pemrov NTB untuk mewujudkan program industrialisasi, pada Desember akhir nanti akan dilakukan uji kelayakan terhadap 20 mesin lagi. ‘’Sehingga total mesin yang akan memperoleh SNI sekitar 39 mesin. Kita doakan bersama ya,’’ ujar alumni UGM ini.

Diharapkan industri di NTB dapat memanfaatkan mesin yang diproduksi langsung di daerah setelah layak menyandang SNI. Sehingga seluruh produksi mesin tersebut akan didorong agar bisa terserap hingga ke daerah.

Berdasarkan data di Dinas Perindustrian NTB, 19 mesin tersebut antara lain; mesin pengupas jagung dikembangkan oleh UD Restu Ibu dari Kabupaten Lombok Timur. Ada tungku gasfikasi yang dibuat oleh CV Rotani yang berada di Kota Mataram. Kemudian mesin sangrai kopi dikembangkan UD Mataram Teknik dari Lombok Barat. Selanjutnya, mesin cacah lamtoro dikembangkan PT Gerbang NTB Emas (GNE) dari Kota Mataram.

Kemudian CV Ondak Jaya Teknik mengembangkan mesin spiner, mesin kupas kopi kering, mesin pemipil jagung. IKM yang berlokasi di Lotim ini juga mengembangkan mesin pengurai serabut kelapa dengan kapasitas 300 kg per jam, mesin emping jagung, mesin cuci telur, mesin mixer pakan ternak, mesin cacah sampah organik, mesin cacah krepek, mesin sangrai kopi, mesin cacah sampah toss-m, mesin rajang sampah buah, mesin mixer magot (larva lalat), mesin cetak pelet magot dan peralatan press cetak tahu. Adapun fasilitasi sertifikasi penerapan SNI bagi IKM logam dan mesin di STIP NTB ini, berlangsung dari tanggal 2 hingga 7 Desember 2019.(Sid)

Kirim Komentar

Leave a Reply