M16: Pasangan Anomali Bisa Jadi Kuda Hitam di Pilkada Loteng

Direktur M16, Bambang Mei Finarwanto (kanan) bersama Kepala Litbang M16, Zainul Pahmi (kiri).
Direktur M16, Bambang Mei Finarwanto (kanan) bersama Kepala Litbang M16, Zainul Pahmi (kiri).

Oleh: Abdul Rasyid Z. |

MATARAM, LOMBOKTODAY.CO.ID – Lembaga Kajian Sosial dan Politik M16 memprediksi bakal muncul pasangan calon bupati dan wakil bupati yang anomali di Pilkada Lombok Tengah (Loteng). Figur yang selama ini dinilai underdog dan tak memiliki dukungan politik kuat, justru akan muncul dalam kontestasi Pilkada Loteng 2020.

Direktur M16, Bambang Mei Finarwanto menjelaskan, prediksi M16 itu disandarkan pada analisa lembaga terhadap perkembangan politik menuju Pilkada 2020, khususnya di wilayah Kabupaten Loteng. ‘’Dari perkembangan terbaru saat ini dan peta politik yang mencuat, M16 memprediksi akan ada pasangan calon anomali yang justru akan menjadi kuda hitam di Pilkada Loteng,’’ kata Bambang Mei Finarwanto didampingi Kepala Litbang M16, Zainul Pahmi di Mataram, Kamis (30/1).

Pria yang akrab disapa Didu ini memaparkan, opini yang berkembang saat ini, Pilkada Loteng akan menempatkan pasangan petahana, yakni Wakil Bupati (Wabup) Loteng, H Lalu Pathul Bahri dan putra atau kerabat lain dari Bupati Loteng, H Suhaili FT sebagai pasangan kuat yang didukung dua partai besar yakni Partai Gerindra dan Partai Golkar.

Namun dalam perkembangan konstelasi sampai hari ini, kata Didu, pasangan yang dianggap the dream team ini belum menunjukkan progres ke arah kepastian sinergi paslon. Sehingga pihak Partai Gerindra-pun memberikan tenggat waktu 2 minggu kepada HL Pathul Bahri untuk menentukan pasangannya. ‘’Belum pasti juga. Apalagi santer ada rumors bahwa Partai Golkar belum mau di posisi kedua sebagai wakil bupati, sementara petahana Wabup juga pasti mau menjadi nomer satu,’’ ujarnya.

M16 menduga, apabila sampai tenggat waktu yang diberikan kepada petahana HL Pathul Bahri belum bisa fix menentukan pasangannya, bisa jadi merupakan sinyal awal belum tercapainya formulasi sinergi politik yang pas dengan putra atau kerabat lain dari Bupati HM Suhaili FT. ‘’Bagaimanapun juga Partai Gerindra akan mendorong HL Pathul  Bahri maju sebagai calon bupati sendiri demi menjaga marwah partai. Dan diprediksi kuat Partai Golkar akan mencalonkan putra atau kerabat lain Bupati Suhaili sebagai calon bupati. Peluang ini sangat besar, diduga mereka akan maju sendiri-sendiri dan menggandeng calon wakil masing-masing,’’ katanya.

Pengaruh Koalisi PDIP-PKS

Didu menilai, seandainya ataupun seumpamanya kubu sesama petahana pisah jalan, maka akan ada beberapa pasangan anomali yang bakal muncul dan memiliki kans kuat digandeng oleh masing-masing kubu petahana tersebut dengan berbagai pertimbangan taktis maupun strategis. Tren kontestasi politik di NTB akhir-akhir ini, kata Didu, menunjukkan banyak pendatang baru justru memenangkan pertarungan karena sukses memikat hati masyarakat.

Mantan Eksekutif Daerah Walhi NTB dua periode ini kemudian melanjutkan, kekuatan pendatang baru yang anomali justru terlihat di spirit dan keinginannya yang kuat yakni mampu mengubah kekurangan menjadi kelebihan. Semangat ini tidak dimiliki oleh calon kuat yang kerap terbelenggu oleh zona nyaman. ‘’Para calon anomali yang dianggap underdogs itu paham dirinya tidak sepopuler calon kuat lainnya, maka dipastikan ia telah menggunakan strategi yang tepat dalam meraih persepsi yang kerap diabaikan oleh paslon lainnya,’’ tambah Zainul Pahmi.

Sementara itu terkait pengaruh koalisi PDI Perjuangan dan PKS di tujuh Pilkada Kabupaten/Kota di NTB, Pahmi menjelaskan akan berdampak melahirkan pasangan anomali itu. ‘’Jangan salah, dalam politik apa saja mungkin terjadi. Figur yang dianggap underdog bisa jadi melejit,’’ kata Pahmi.

Ia mencontohkan, dari hasil Pileg 2019 lalu, H Bambang Kristiono (HBK) dari Partai Gerindra sempat dianggap remeh ketika bertarung menuju DPR RI dengan Dapil Lombok. Tapi, faktanya suara HBK justru melejit dan menjadi suara terbanyak. ‘’Pasangan Zul-Rohmi di Pilkada NTB 2018 lalu juga sempat underdog dan dianggap remeh. Tapi mereka justru melejit dan kini menjabat Gubernur dan Wakil Gubernur NTB,’’ ujarnya.

Setidaknya ada beberapa figur potensial yang bisa mengulang sukses calon-calon underdog di Pilkada Loteng. H Ruslan Turmuzi yang akrab disapa RT, politisi PDIP yang kini menjabat anggota DPRD NTB salah satunya calon anomali  melalui berbagai upaya terobosan politik baik secara terbuka ataupun underground. ‘’Terutama dengan melihat koalisi PDIP-PKS, saya pikir Ruslan Turmuzi bisa masuk kriteria calon anomali jika diberi kepercayaan dan tentu jika ada keajaiban (miracle) politik. Tentu ada beberapa calon underdogs lainnya yang memiliki kans seperti RT,’’ katanya.(Sid)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here