Soal Tanaman Jagung, Dinas Pertanian Lotim Terhindar dari Kepanikan

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Lotim, H Abadi saat memeriksa buah jagung yang hendak dipanen di Desa Pemongkong, Kecamatan Jerowaru.

Oleh: Lalu M Kamil AB |

LOTIM, LOMBOKTODAY.CO.ID – Dinas Pertanian Kabupaten Lombok Timur (Lotim) hampir dibikin panik dengan pemberitaan salah satu media di NTB yang menyebutkan produksi jagung wilayah selatan (Kecamatan Jerowaru) terancam gagal dan ratusan hektare lahan jagung terserang hama ulat yang meluluh-lantahkan tanaman jagung yang tengah mulai berbuah bahkan menjelang panen.

Menyikapi isu tersebut, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Lotim, H Abadi bersama Kepala UPP Kecamatan Jerowaru didampingi PPL pertanian Desa Pemongkong, Selasa (17/3), turun gunung melihat secara langsung kondisi tanaman jagung rakyat di kawasan itu.

Secara acak Kadis dan rombongan menyasar sejumlah lokasi yang disebutkan kondisi paling parah. Lokasi pertama yang didatangi yaitu di kawasan ladang kampung Stapuk, Dusun Tanak Beak, Desa Pemongkong. Ternyata di lokasi tersebut ditemukan kondisi aman-aman saja bahkan peladang sedang santai-santai menunggu memasuki masa panen yang tinggal hitungan 1 atau 2 pekan ke depan.

Pihak Dinas Pertanian dan UPP tidak menampik adanya serangan hama ulat, namun tidak separah seperti dalam berita yang menyatakan gagal panen. Pihak UPP dan PPL mengakui akan mengkaji penurunan angka produksi yang kisaran penurunannya antara 20% hingga 25% maksimal. ‘’Sebenarnya tidak separah yang diisukan, hanya saja di lokasi-lokasi tertentu di kawasan timur yang curah hujannya agak minim yang banyak mengalami kendala seperti pertumbuhan lamban dan jagung menjadi kerdil serta terserang ulat,’’ kata Kadis Pertanian Lotim, H Abadi kepada wartawan yang ikut dalam ekspedisi itu.

Kadis menambahkan, para petugas Dinas Pertanian melalui tim Gerakan Pengendalian (Gardal) secara intens terjun melakukan pengendalian di lokasi-lokasi yang terserang. Dan upaya itu katanya, sangat membuahkan hasil dan areal yang terserang masih bisa terselamatkan hingga sampai berbuah. ‘’Sebagian kecil lokasi yang letaknya tidak terpantau petugas ada yang gagal produksi karena pemilik lahan panik dan tidak bisa berbuat banyak, karena pemilik juga tidak segera melapor ke petugas pengendali. Tapi bagi petani yang segera melapor, pasti direspond oleh tim dan hasilnya bisa terselamatkan,’’ ujarnya.

Dari hasil pantauan hari ini, Kadis Pertanian merasa optimis hasil produksi tahun ini masih aman. Dari potensi lahan jagung Kecamatan Jerowaru seluas 5.176 ha yang ditanami sekitar 4.162 ha menurut data yang dilaporkan pihak UPP Kecamatan Jerowaru.

Jika diakumulasikan seluruh lahan yang ada hanya sekitar 45 ha yang terancam gagal. Ini artinya, jika dilihat perbandingan hasil produksi tahun 2018 mencapai 5 ton lebih per ha, tahun 2019 meningkat menjadi 6 ton lebih per ha dalam kondisi tanpa hama. Namun, tahun 2020 ini belum bisa dipastikan berapa per ha, namun yang pasti akan terjadi penurunan yang tidak terlalu signifikan.

Disebutkan, penurunan produksi di kawasan timur desa Pemongkong dan desa Sekaroh selain karena hama, juga disebabkan pada awal tanam curah hujan minim dan jagung jadi kerdil. Namun akan ditutupi oleh produksi di kawasan barat seperti Desa Pemongkong bagian barat, Desa Ekas Buana dan Desa Kuang Rundun dipastikan tidak ada masalah karena dikawasan tersebut intensitas hujan lebih tinggi dan serangan hama ulat hampir tidak ada.

Menurut Kadis, serangan hama ulat jenis Spoductera Prugiferda atau jenis hama ulat grayat ini tidak hanya terjadi di Lombok saja namun kasus ini terjadi secara nasional. Jenis ulat ini memang diketahui agak kebal dari semua vestisida karena memiliki Sefty System.

Konon lanjut Kadis, jenis hama ulat ini bermula datang dari daratan Amerika masuk pertama di Indonesia melalui Sumatera. Hanya dalam hitungan bulan hama ini ekspansi ke Lombok dan beberapa daerah di kawasan Indonesia Timur.(Sid)

Kirim Komentar

Leave a Reply