KATA-KATA

Oleh: Drs Cukup Wibowo, MM.Pd |

TAK pernah rasanya kita seperti saat ini, berada di lautan kata-kata yang begitu deras mengalir dari berbagai penjuru, membentuk pesan yang kurang lebih sama. Pesan tentang pentingnya informasi, pengetahuan, kehati-hatian, dan cara membangun rasa kemanusian secara bersama-sama. Semua karena Corona, virus yang disebut paling mematikan bila sudah merasuk ke tubuh manusia, yang saat ini sudah menyebar di berbagai belahan dunia. Tapi anehnya, gambaran tentang virus yang luar biasa mencemaskannya itu berkelindan dan membentuk visualisasi di pikiran dengan hanya digerakkan oleh kata-kata.

Oleh pergerakan itu, untuk kesekian kalinya kita menjadi makin percaya bahwa kata-kata tak hanya soal pemaknaan, tapi juga tentang kekuasaan untuk membuat seluruh aspek psikologis penerimanya, baik sebagai pembaca maupun pendengar dari aliran kata-kata menjadikan mereka makin penuh dan bersungguh-sungguh dalam melibatkan dirinya. Kekhawatiran, kemarahan, ketakutan, keraguan, ketidakpercayaan adalah buah dari efek psikologis yang diproduksi oleh kata-kata.

Bila kita renungkan, apa yang kita rasakan terkait dengan wabah Corona saat ini adalah rentannya pikiran ini saat menghadapi gempuran pesan yang mengandung kecemasan. Waspadalah! Hati-hatilah! Ingatlah! Jangan lupa! Adalah beberapa ungkapan yang menggambarkan kecemasan di dalamnya. Tak bisa kita pungkiri, munculnya kata-kata itu adalah respon dari kemendesakan atas situasi di mana setiap orang seperti tersandera oleh kecemasan yang sama. Kecemasan yang karenanya harus disampaikan juga kepada lainnya agar apa yang dirasakannya menjadi tereduksi. Refleks inilah yang membuat kecemasan beredar makin massif.

Kata-kata, oleh Jack Schafer Ph.D., memang dikatakan tidak dapat mengubah kenyataan, tetapi bisa mengubah bagaimana orang memandang kenyataan. Kata membuat filter di mana orang melihat dunia di sekitar mereka. Satu kata dapat membuat perbedaan antara ‘’rasa suka’’ dan ‘’tidak suka’’. Jika seorang teman menggambarkan orang yang ingin kita temui untuk pertama kalinya sebagai tidak dapat dipercaya, kita akan cenderung untuk melihat orang itu sebagai tidak dapat dipercaya, terlepas dari tingkat sebenarnya seseorang kepercayaan. Kata tunggal ‘’tidak dapat dipercaya’’ menciptakan efek filter, atau keunggulan, yang mempengaruhi kita untuk melihat orang yang kita akan temui itu sebagai tidak dapat dipercaya. Setelah itu, kita akan cenderung melihat semua orang yang mengatakan atau tidak sebagai tidak dapat dipercaya.

Begitulah kata-kata. Kehidupan menjadi terjaga, terawat, atau bahkan bisa rusak berantakan disebabkan  oleh kata-kata. Sebagaimana halnya kebaikan dan keburukan, kemanfaatan dan kemudaratan, tak akan bisa lepas dari kata-kata. Bila kita adalah kata-kata itu, maka menjadi bijak atau picik, penuh kedalaman pengertian atau kepicikan cara pandang bergantung pada cara kita memproduksi kata-kata.

Dalam situasi kita semua sedang menghadapi keadaan sulit yang sama, terasa relevan menyimak yang dikatakan oleh Benjamin Franklin, ‘’Ingatlah untuk tidak hanya menyampaikan hal yang benar di tempat yang benar. Karena yang jauh lebih sulit adalah tidak menyampaikan yang salah pada saat pikiran kita tergoda untuk menyampaikannya’’.(*)

Penulis adalah Widyaiswara Ahli Madya di BPSDMD Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB).

 

Kirim Komentar

Leave a Reply