Terkait MHT, BK DPRD Kota Mataram Didesak Segera Ambil Tindakan

Safrudin, S.Ag.

Oleh: Abdul Rasyid Z. |

MATARAM, LOMBOKTODAY.CO.ID – Masih ingat salah seorang Anggota DPRD Kota Mataram berinisial MHT (52 tahun), yang terkonfirmasi positif Covid-19, sesuai hasil swab di Rumah Sakit Universitas Mataram (RS Unram), pada Senin, 27 April 2020 lalu. Bahkan sekarang istrinya berinisial Ny RK (35 tahun) dan anaknya yang baru berusia 1,5 tahun juga ikut tertular Covid-19 akibat kontak dengan MHT.

Terkait hal tersebut, salah seorang warga Kota Mataram, Safrudin, S.Ag menyoroti dengan mempertanyakan sikap lembaga DPRD Kota Mataram terhadap anggotanya dan Gugus Tugas Covid-19 Kota Mataram. ‘’Saya melihat terjadi perlakuan yang tidak adil, dalam hal ini MHT yang pada dirinya melekat sebagai anggota DPRD Kota Mataram dari Partai Persatuan Pembangunan yang notabene yang bersangkutan dipercaya sebagai wakil masyarakat, justru memberikan contoh yang tidak baik. Bukan saja telah melanggar protocol Covid-19, tapi justru telah menciptakan keresahan di tengah masyarakat, khususnya keluarga, tetangga serta setiap orang yang telah melakukan contac dengan yang bersangkutan,’’ kata Safrudin kepada Lomboktoday.co.id, Sabtu (16/5).

Sementara ketika masyarakat biasa yang terkonfirmasi Covid-19, kata Safrudin, hebohnya minta ampun dengan dilakukan isolasi dan karantina. Tapi begitu ada oknum anggota dewan yang terkonfirmasi positif Covid-19, malah cenderung terkesan dilakukan pembiaran begitu saja tanpa penanganan yang serius. Bahkan ketika hasil swab dari Rumah Sakit Unram belum keluar, di mana seharusnya terhadap yang bersangkutan dilakukan isolasi atau dengan mengisolasi diri, justru yang bersangkutan tiba-tiba sudah berada di Bali dengan alasan ingin cepat dapat hasil swab. Ini tentunya memperlihatkan lemahnya pemantauan dan pengawasan dari pihak terkait.

Artinya bahwa program pencegahan Covid-19 berbasis lingkungan dan kelurahan yang diprogramkan Wali Kota Mataram, H Ahyar Abduh tersebut, menurut Safrudin, dianggap enteng dan isapan jempol semata oleh yang bersangkutan. Karena berdasarkan protokol Covid-19, sambil menunggu hasil swab, yang bersangkutan harusnya mengisolasi diri guna mencegah potensi penyebaran Covid-19 yang lebih luas, tapi itu tidak diindahkan dengan secara diam-diam pergi ke Bali.

Selain itu, DPRD Kota Mataram tidak terlihat mengambil tindakan apapun terhadap anggotanya, khususnya Badan Kehormatan DPRD Kota Mataram. Seyogyanya, sebagai sebuah institusi resmi, DPRD Kota Mataram juga dapat mengingatkan yang bersangkutan secara lisan ataupun tertulis untuk mematuhi semua protocol Covid-19 demi keselamatan yang bersangkutan, keluarga dan masyarakat.

Faktanya, istri dan anaknya juga akhirnya ikut menjadi korban akibat tidak mengindahkan aturan yang ada. Ditambah lagi, ketika tim Gugus Tugas Covid-19 Kota Mataram mengalami kesulitan melakukan penjemputan terhadap keluarganya, dikarenakan keluarga MHT dijemput namun tidak berada di kediaman dan malah ditemukan sedang berada di salah satu hotel di Mataram.

Terhadap Gugus Tugas Covid-19 Kota Mataram, Safrudin menyarankan dua hal: pertama, agar terus melakukan tracking terhadap setiap anggota masyarakat yang pernah contak dengan pasien Covid-19. Tetapi hal ini tidak bisa berhasil dengan maksimal tanpa adanya kerja sama dengan masyarakat. Oleh karenananya, masyarakat harus bisa jujur dengan cara segera melaporkan diri kepada aparatur pemerintah melalui Kepala Lingkungan atau ke instansi kesehatan terdekat, seperti Puskesmas tanpa harus menunggu gejala sakit. Kedua, demi keselamatan dan menciptakan ketenangan masyarakat, Gugus Tugas Covid-19 Kota Mataram harus melakukan penelusuran terhadap keabsahan surat keterangan yang dikeluarkan oleh RSU Sanglah Denpasar. Bukan persoalan asli atau tidaknya, tapi hal ini semata-mata demi keselamatan dan menciptakan ketenangan masyarakat.(Sid)

1 Komentar

  1. Masyarakat16/05/2020 at 10:33 amReply

    HT.. Memang contoh masyarakat yang misterius:
    1. Mana lebih dulu terbit hasil swab mataram atau bali.?
    2. Berobat ke Bali pakai apa ya?
    3. Kalo memang negatif kenapa istri dan anak nya positif?
    4. Mbak rika kenapa harus ke hotel?
    5. Coba ke hotel atau saat “ketangkep” jgnlah pakai cadar.. Pakai masker kek… Itu mencoreng tampilan muslim aja..

Leave a Reply