Belajar Adil Melalui Rasa Sakit

Drs Cukup Wibowo sedang menjalani perawatan intensif di Ruang Isolasi RSUD Kota Mataram.

Oleh: Cukup Wibowo |

SEJAK memutuskan untuk memeriksakan diri ke IGD RSUD Kota Mataram dan kemudian diminta untuk rawat inap karena kondisi tubuh yang makin memburuk, saya sudah belajar untuk tidak akan merasa kaget dengan kemungkinan apapun yang akan terjadi. Melewati sakit dalam beberapa hari bahkan sebelum ke RSUD membuat saya jadi terlatih untuk mulai tahu bagaimana menikmati ketidaknyamanan tubuh. Ungkapan sangguplah untuk berdamai dengan diri sendiri menjadi dasar penguat pikiran saya untuk tak membiarkan tubuh dan pikiran ini dalam sengketa pikiran yang tak produktif.

Siapapun, rasanya tak ada yang suka memilih kesengsaraan dibanding kegembiraan hati. Bahkan dalam doa-doanya, seseorang akan senantiasa memohon kepada Tuhannya untuk dibahagiakan dunia dan akherat. Artinya apa? Bahwa secara naluriah manusia memang akan selalu menginginkan kebahagiaan dalam hidupnya, di dunia maupun akherat.

Maka ketika didera oleh tubuh yang sakit, ujian atas kesanggupan mulai harus dirasakan oleh seseorang. Kata sabar yang semula mudah untuk diucapkan harus dibuktikan tak lagi sebagai teori melainkan dalam praktek yang nyata. Kesabaran dalam menghadapi kesakitan memang pada akhirnya harus dibuktikan setelah seseorang mengalaminya sendiri. Seperti itulah yang kira-kira saya rasakan.

Tak ada pilihan kecuali segera menyesuaikan diri untuk segera bisa tiba pada kesanggupan diri. Setelah melewati serangkaian test, seperti Rapid Test dengan hasil negatif. Kemudian test lain secara berturut-turut untuk memastikan DB, Malaria, Typus di mana hasilnya juga negatif. Oleh hasil demi hasil atas pemeriksaan itu, saya tak berusaha mengekspresikan emosi saya dengan cara melonjak kegirangan hanya karena dinyatakan negatif untuk berbagai rangkaian test. Saya meyakini, tubuh tak akan pernah bisa diajak bahagia secara benar bila hanya disiapkan untuk sekadar siaga dalam sebuah kontestasi keberhasilan semata. Saya sungguh-sungguh sedang belajar menyakini bahwa tubuh harus senantiasa terlatih dalam ‘’rasa pernah’’ yang seimbang sekaligus adil. Positif atau negatifnya sebuah hasil itu tak lebih sebagai cara Tuhan untuk memastikan apakah pikiran kita sanggup untuk adil terhadap diri sendiri.

Tubuh saya memang sudah terlanjur lemah sejak sebelum masuk rumah sakit. Trombosit berfluktuasi. Oleh hasil apapun yang nantinya diumumkan oleh pihak Rumah Sakit saya sudah berjanji pada diri sendiri untuk tidak akan pernah kaget saat harus menerima keputusan dalam rumusan seperti apapun bunyinya. Bila hati sedang bahagia apakah kemudian kita akan begitu memusuhi kesedihan dan menempatkan kesedihan itu sebagai musuh pikiran dan dengan demikian kita selalu menghindar dan mencari-cari alasan untuk selalu membencinya? Apakah itu mungkin bila mengingat dialektika sudah diatur oleh Sang Maha Mengatur segalanya dalam keseimbangan rasa yang harus dialami oleh semua makhluk-Nya? Bukankah bahagia, sedih, kecewa, puas atau tidak puas adalah rasa alami yang memang dihasilkan oleh tubuh dalam masa yang datangnya silih berganti?

Secara sungguh-sungguh saya belajar dari kesakitan yang sedang saya alami. Ini sekaligus saya manfaatkan untuk belajar memaknai bagaimana pikiran bekerja, makin saya belajar untuk bisa menikmati sesuatu yang semula tidak saya sukai hasilnya justru positif yakni hilangnya kesakitan di tubuh. Dan saya percaya tubuh memang butuh diajak berdamai untuk tidak berkonfrontasi dengan apa yang tidak disukainya.

Bila kemudian Covid-19 harus saya alami dan rasakan, secara mental saya sudah siap. Saya tidak merasakan apa yang disebut shock atau kaget. Saya percaya salah satu hadiah terbaik yang diberikan Tuhan kepada kita adalah rasa sakit. Karena dengan mengalami kesakitan saya jadi bisa belajar bagaimana bisa berlaku adil. Dan belajar untuk adil itu akan lebih baik bila bisa dimulai dari diri sendiri.(*)

Ruang Isolasi RSUD Mataram, Selasa, 7 Juli 2020.

Kirim Komentar

Leave a Reply