Terdampar di ‘’Keputren’’ Jogja

Tampak Sekda NTB, HL Gita Ariadi saat berada di dekat jenazah Almarhum HL Dirjaharta.

Oleh: HL Gita Ariadi |

SELASA (07/07/2020), sekitar pukul 13.54 Wita, saya menerima WA dari Lalu Dirjaharta (LD) yang melaporkan dirinya sedang di IGD akibat gangguan asam lambung. WA direspon seperti biasanya sembari memberi semangat untuk menerima penyakit dengan ikhlas dan sabar.

Sesaat kemudian, pukul 16.15 Wita di tengah meeting di Jakarta, tiba-tiba deringan telpon dan tanda WA masuk bersusulan memberi kabar kepergian LD. Semua berproses begitu cepat. Berita itu sungguh mengejutkan, bak petir di siang bolong. Sungguh, ajal itu haq, otoritas dan rahasia Allah SWT. Tak bisa ditunda sesaat tak jua bisa diajukan sesaat. Bila telah tiba waktunya, tak ada yang kuasa menolaknya. Innalillahi wainnailaihirojiun.

Antara kaget dan setengah tidak percaya, kok begitu cepat? Apa penyakitnya? Hanya asam lambung atau ada komplikasi lain? Rasa penasaran ini tak lepas dari keadaan.

Setahun terakhir LD cukup sering keluar masuk rumah sakit. Kadang opname beberapa hari. Tahun 2016, LD pernah operasi empedu. Tahun 2019, sepulang umroh LD mulai keluhkan asam lambungnya. LD seakan sembunyikan sakitnya, tidak memberi tahu temannya bila ada gangguan kesehatan yang serius.

Ini tak lepas dari bawaannya yang sedikit bicara, murah senyum, suka bercanda seakan penyakit itu bisa dikompromikan dan dia bisa atasi sendiri. Tak perlu susahkan orang lain. Cukup ia sendiri yang rasakan dan yakin akan selesai dengan sendirinya.

Seminggu yang lalu di pondok saya di Puyung, ada reuni HL Serinata dengan seluruh staf-staff terdekatnya kala menjadi Gubernur NTB periode 2003-2008. LD juga hadir dan nampak ceria seperti biasa. LD semangat cerita kenangan lucu dan moment penting kala LD menjadi Kasubag TU Pimpinan mendampingi Gubernur HL Serinata. Tidak ada tanda-tanda dan firasat khusus.

Setelah berita duka tersebar, memory menyeruak mengenang sosok ASN yang akrab dengan berbagai kalangan itu. LD lahir di Mantang tahun 1961 silam. Sebagian besar hidupnya diabdikan berkarier sebagai abdi negara. Tahun 1984 masuk APDN, setahun kemudian (1985) sudah tercatat sebagai PNS dengan pangkat II/b. Hingga akhir hayatnya, LD sudah 35 tahun mengabdi dengan pangkat terakhir IV/c. Tahun 2021, LD mestinya akan paripurnakan tugasnya sebagai ASN.

Sebagai sesama ASN, saya mengenal LD cukup dekat sejak 27 tahun lalu ketika kami sama-sama ikut Diklat SEPADA (Sekolah Pimpinan Administrasi Tingkat Dasar) Angkatan XV tahun 1993 di Diklat Provinsi NTB. Pada sesi dinamika kelompok perkenalan diri peserta diklat, LD menyebut diri alumni APDN dan UGM. Tapi dengan canda kemudian ia sebutkan akronim UGM sebagai Universitas Gomong Mataram.

Bisa jadi candaan kala itu adalah doa dan motivasi. Buktinya, pada tahun 2000-2001 saya dan LD dan beberapa teman lainnya lulus seleksi pendidikan Pasca Sarjana Magister Administrasi Publik (MAP) UGM Jogjakarta angkatan XIX. Banyak suka duka kami alami bersama.

Sebelum berangkat kuliah ke Jogja, ditanya di mana akan kost ? Spontan LD menjawab di Keputren Jogja. Begitu tiba di Jogja kami mencari kost yang harus dekat dengan kampus. Dapatnya justru di sebuah kost putri di SKIP Kompleks Perumahan Dosen UGM. Setengah bercanda saya katakan keinginan tinggal di Keputren terkabul dengan kost di kostan putri. Rupanya, Induk Semang sudah kewalahan mengurus kost putri dan ingin ganti dengan kost putra.

Betul saja, begitu kami masuk satu persatu mahasiswi penghuni lama keluar dan tempat itu berganti jadi kost pria. 6 bulan pertama kami sekamar berdua sambil menunggu putri-putri kost keluar.

Suatu malam, LD terima telpon dari Sri Ayuni, sang istri yang kurang lebih menginfokan bahwa Ditha, Ria, Icha akan dapat tambahan adik. LD saya goda, besok kalau lahir bayi laki-laki agar diberi nama JOKO (JOgja – KOpang). LD pun balik bercanda untuk beri nama PUJO (PUyung – JOgja) bila saya ada nasib dapat putra lagi.

LD Sosok Panutan

Banyak pihak kini kehilangan sosok yang murah senyum, senang bercanda, terbuka tapi punya prinsip yang kuat. Staff yang pernah menjadi bawahannya memberi kesaksian, almarhum orang baik. Saking baiknya, LD jarang marahi anggotanya waktu jadi Kasat Pol PP. Dengan jiwa kebapakannya, LD mengayomi anggotanya dengan baik. Kalaupun harus marah, maka Sekretaris Satpol PP yang diminta untuk lebih keras membina anggota sehingga Sekretaris nampak lebih cerewet.

Sekda NTB, HL Gita Ariadi (kanan) saat bersama Drs HL Dirjaharta (Alm).

Di berbagai penugasan baik di Biro Ekonomi, Badan Diklat Provinsi NTB, Dinas PU, Dispenda, Inspektorat, Kepala TU Pimpinan, Kepala Biro Kerjasama, Kepala Biro Pemerintahan, Kasatpol PP dan terakhir sebagai Kaban Kesbangpoldagri NTB,  kinerja almarhum sangat baik. Tidak banyak merepotkan pimpinan dan selalu mencari solusi masalah yang dihadapi.

Almarhum LD adalah sosok yang low profile. Sedikit bicara tapi semua tugas tertunaikan dengan baik. Ketika jadi Kasatpol PP dan dalam penanganan Pandemi Covid-19, Pak Dirje hadir di lapangan bersama anggotanya. Saya sangat terbantu dengan kinerja Pak Dirje kata Gubernur NTB, Dr H Zulkieflimansyah  ketika memberi sambutan di acara pemakaman (08/07/2020).

Pada saat sebagai Kasat Pol PP, LD sejak 2019 juga mengemban amanah sebagai Ketua AP3I (Asosiasi Polisi Pamong Praja Indonesia) hasil Musyawarah Nasional AP3I di Pekanbaru, Riau, tahun 2019. Pada 1-5 Maret 2020 lalu, LD  sukses menyelenggarakan pertemuan/Rapat Kerja Nasional Pol PP yang dihadiri Mendagri dan ribuan pejabat serta anggota Satpol PP se-Indonesia. Terakhir LD juga menjabat sebagai Plt DPP Ikatan Keluarga Alumni Pendidikan Tinggi Kepamongprajaan (IKAPTK) NTB dan sedang mempersiapkan Musda IKAPTK NTB.

Disenja usia pengabdian sebagai ASN, LD menyiapkan berbagai rencana kegiatan untuk tetap bisa mengabdi pada rakyat. Beberapa sketsa masa depan yang dirancang kini seakan tersisa sebagai wacana abadi dan akankah sirna bersama sirnanya raga?.

Secara pribadi, saya sangat kehilangan seorang sahabat yang sangat baik dan sangat setia. Banyak kolega, sahabat yang pasti merasa kehilangan dengan kepulangan almarhum yang kami nilai sangat menghargai makna sebuah persahabatan. Pemprov NTB jelas kehilangan sosok ASN yang penuh dedikasi, sederhana dan menjaga integritasnya dengan baik.

Penggalan pengalaman lucu yang sulit saya lupakan adalah kenangan di Keputren Jogja. Memasuki semester 3 (terakhir) rasa jenuh mulai menghinggapi. Obatnya, kami jadi lebih sering pulang dibanding sebelumnya.

Bila hari Kamis tiba, malam Jumat kami duduk berdua menunggu tokek berbunyi. Kami spekulasi dengan bunyi tokek, pulang atau tidak, pulang atau tidak. Bila bunyi tokek berakhir di hitungan pulang, maka kami segera ke Malioboro cari tiket dan oleh-oleh ala kadarnya. Keesokan harinya, kami Pulang Jumat Kembali Ahad (PJKA).

Kini saya tidak punya teman lagi untuk tebak-tebakan menghitung suara tokek. Pulang atau tidak, pulang atau tidak. Karena sejatinya jawaban pasti dari hitungan suara tokek hanya satu pilihan, ajakan untuk pulang, pulang, pulang dan pulang. Kini LD sudah berpulang, kamipun akan menyusulmu berpulang.

Selamat jalan sanak. Selamat jalan penghuni Keputren SKIP. Insya Allah Husnul Khotimah. Allahumagfirlahu warhamhu waafihi wa’fuanhu. Alfatehah. Aamiin.(*)

Penulis adalah Sekretaris Daerah (Sekda) Nusa Tenggara Barat (NTB).

Kirim Komentar

Leave a Reply