Kosakata Bahasa Daerah Sebagai Aset Kekayaan Bangsa

M Shalahuddin Al-Ayyubi, Mahasiswa Universitas Islam Indonesia.

Oleh: M Shalahuddin Al-Ayyubi |

INDONESIA sebagai bangsa heterogen tentunya memiliki identitas elok tersendiri dengan beraneka ragam suku dan budaya yang mana semuanya bersatu di bawah Bhinneka Tunggal Ika. Selain multikultural, yang tidak bisa dinafikan adalah kita juga hidup di tengah masyarakat multilingual. Berbagai bahasa daerah dari Sabang sampai Merauke dengan ciri khas masing-masing merupakan aset khazanah bagi bumi pertiwi. Hal demikian harus senantiasa dilestarikan oleh setiap generasi bangsa terutama mereka para pemuda supaya jati diri Indonesia tak luntur meskipun dihadapi oleh gadangnya dampak negatif globalisasi.

Asrif (2010) dalam jurnalnya bertajuk ‘’Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Daerah dalam Memantapkan Kedudukan dan Fungsi Bahasa Indonesia’’ memaparkan bahwa bahasa daerah memiliki peran penting menyokong kultur secara nasional. Mengingat pada dasarnya bahasa merupakan bagian penting dari permainya suatu kebudayaan. Sebab, itu diperlukan kesadaran rakyat Indonesia akan betapa pentingnya pembinaan dan pengembangan bahasa lokal. Dari jurnal idem terdapat 3 poin yang menjadi bentuk ikhtiar atau upaya dalam meningkatkan pembinaan dan pengembangan bahasa daerah supaya dapat berjalan dengan baik. Selanjutnya akan dipaparkan pada paragraf di bawah ini.

Pertama, yaitu pemantapan keberlangsungan penggunaan bahasa daerah sebagai sarana pendukung budaya daerah dan budaya Indonesia. Kedua, pemantapan kedudukan bahasa daerah sebagai sumber kebahasaan dalam memperkaya bahasa Indonesia. Ketiga, peningkatan mutu bahasa daerah yang merupakan unsur utama kebudayaan daerah yang pada gilirannya menunjang kebudayaan nasional. (Mabasan Vol.4 No.1 Januari – Juni 2010).

Saya akan memperinci poin nomor dua. Perlu diketahui, bahasa lokal sangat berkontribusi dalam memperkaya kosakata bahasa Indonesia. Eksistensi kosakata yang berasal dari bahasa daerah termaktub dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Sudah sepatutnya KBBI menjadi sumber rujukan dalam menggunakan bahasa Indonesia nan baku sebab keakuratan dan kelengkapan isi kamus tersebut. Adapun penerbit yang menerbitkan Kamus Besar Bahasa Indonesia telah mempunyai hak panten langsung dari pemerintah Republik Indonesia. KBBI pun juga secara resmi bernaung pada Kemdikbud (Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia).

Tentunya kosakata yang dikategorikan sebagai bahasa daerah ialah yang berada di luar bahasa asing (seperti bahasa Inggris, Belanda, dsb.) dan bahasa yang masih serumpun dengan Melayu; mengingat fondasi kokoh bahasa Indonesia adalah bahasa Melayu yang sudah dalam tarikh bangsa selaku Lingua Franca atau basantara. Menurut artikel yang dibuat oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemdikbud, kurang lebih sekitar 4% kosakata serapan bahasa daerah yang termaktub dalam bahasa Indonesia. Masih jauh lebih kurang bila dibandingkan dengan kosakata serapan bahasa asing.

Seperti yang kita ketahui, banyak istilah asing ketika ditempatkan dalam bahasa Indonesia tak mempunyai padanan sehingga acapkali kita menyerap istilah-istilah asing tersebut secara langsung. Sementara kosakata bahasa daerah dewasa ini nampaknya kurang diupayakan secara baku di bahasa Indonesia dengan fungsi sebagai padanan sebuah term asing. Realitanya kita tidak akan bisa menemukan kosakata bahasa daerah yang memiliki padanan persis sama secara makna.

Kendati demikian, alangkah bijaknya apabila kita dapat saling menyepakati satu sama lain dalam menempatkan kosakata daerah selaku padanan pada istilah asing. Mengapa begitu? Karena pada dasarnya hal yang terpenting tidak harus persisnya makna nan terkandung, melainkan kesepakatan. Mengingat ciri bahasa tidak luput dari sebuah kesepakatan bersama.

Melalui data ‘’Kontribusi Kosakata Bahasa Daerah dalam Bahasa Indonesia’’ yang ditulis oleh Adi Budiwiyanto kita mengetahui bahasa Jawa berada dalam posisi teratas dengan jumlah 1109 kosakata (dipersentasekan sekitar 30,87%), disusul bahasa Minangkabau berjumlah 929 kosakata (dipersentasekan sekitar 25,86%), bahasa Sunda dengan jumlah 223 kosakata (dipersentasekan sekitar 6,21%), dan diikuti bahasa-bahasa daerah lainnya. Adapun dalam konteks ini; bahasa Sasak selaku bahasa asli Gumi Selaparang hanya sekitar 18 kosakata yang dibakukan dalam bahasa Indonesia. Secara persentase bahasa Sasak masih kurang dari 1%.

Setidaknya berugak, pelecing, nyongkolan, ayam taliwang, dan belasan kosakata lain yang diserap dari bahasa Sasak eloknya telah termaktub dalam KBBI sehingga semua itu kini dapat menjadi baku bila digunakan oleh setiap pengguna bahasa Indonesia entah dalam kepentingan akademik, sastra, ataupun di berbagai bidang formal yang ada. Walaupun sedikit, kosakata yang bersumber dari bahasa Sasak itupun memiliki peranan besar untuk merepresentasikan kekayaan budaya di pulau Lombok dan penguatan identitas khas daerah sehingga patut untuk disyukuri.

Sekarang tinggal berpikir bagaimana agar kosakata bahasa daerah kita semakin bertambah ke depannya. Maka dari itu kita sebagai generasi penerus memiliki tugas bukan hanya sekadar menuturkan bahasa daerah sehari-hari ketika bersua dengan keluarga, teman atau rekan kerja, dan masyarakat. Melainkan kita juga harus memperjuangkan kosakata yang bersumber dari bahasa lokal kita agar dapat terbakukan secara resmi dalam bahasa Indonesia.

Tentu saja hal demikian dapat diraih apabila kita terlebih generasi muda semakin giat berkarya di berbagai bidang misalnya sastra, musik, seni, dan semuanya dengan catatan menggunakan atau minimal menyisipkan kosakata bahasa daerah di berbagai gubahan. Pastinya dengan sekreatif dan seindah mungkin supaya setiap orang yang mengetahui karya kita akan menjadi lebih mudah tertarik serta mengenal uniknya budaya dan bahasa kita selaku bagian dari bangsa heterogen.

Sebab, karya-karya kitalah yang menjadi pendukung kuat agar ketika kelak kita mengusulkan kosakata baru nan bersumber dari bahasa daerah di KBBI, hal itu bisa dipertimbangkan hingga akhirnya dapat diterima oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. Ingat, adalah hak bagi setiap suku atau kelompok etnik di Indonesia untuk bersama-sama mengembangkan bahasa Indonesia tanpa terkecuali.(*)

Penulis adalah Mahasiswa Universitas Islam Indonesia yang berasal dari Lombok.

Kirim Komentar

Leave a Reply