Gelar Webinar, TP PKK NTB Bersama Undikma Teken MoU

Ketua TP PKK Provinsi NTB, Hj Niken Saptarini Widyawati saat menjadi pembicara pada webinar pendidikan keluarga, di Ruang Sidang Bacalah Universitas Pendidikan Mandalika (Undikma), Rabu (9/9).

Oleh: Abdul Rasyid Z. |

MATARAM, LOMBOKTODAY.CO.ID – Pandemi Covid-19 tidak hanya berdampak pada ekonomi dan kesehatan saja, akan tetapi berdampak juga pada sosial. Salah satunya dampak sosial pada keluarga, di mana terjadi peningkatan angka kekerasan pada anak serta pernikahan dini.

Berdasarkan data Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA), NTB merupakan satu dari 13 Provinsi di Indonesia yang mengalami kenaikan angka pernikahan di usia remaja atau sekolah. ‘’Salah satu alasannya adalah masalah budaya. Di NTB ada istilahnya merariq kodeq (menikah dini, Red),’’ kata Ketua TP PKK Provinsi NTB, Hj Niken Saptarini Widyawati saat menjadi pembicara pada webinar pendidikan keluarga.

Pada webinar yang terselenggara di Ruang Sidang Bacalah Universitas Pendidikan Mandalika (Undikma), Rabu (9/9), Hj Niken menyampaikan bahwa pernikahan di usia remaja dipicu banyak hal. Selain alasan budaya, alasan ekonomi pada orang tua, kasus hamil pada remaja turut andil dalam meningkatnya angka pernikahan di usia remaja di NTB.

Selain itu juga, kurangnya pengawasan orang tua selama pembelajaran di rumah, aktivitas belajar di rumah yang mengakibatkan remaja memiliki keleluasan dalam bergaul di lingkungan masyarakat, hingga minimnya informasi terkait kesehatan reproduksi bagi orang tua dan remaja juga menjadi faktor.

Sehingga, penguatan keluarga dalam pendidikan anak amat penting di masa Pandemi Covid-19. Selain itu, peran dari segala pihak baik dari Pemerintah Provinsi hingga Pemerintah Desa, sangat diperlukan dalam mencegah pernikahan di usia dini. Dukungan orang tua pada pendidikan anak di rumah, seperti pemenuhan kebutuhan fisik, perhatian, kasih sayang, memfasilitasi dan mendampingi anak belajar dapat mendukung tumbuh kembangan anak.

Lebih jauh, menurut data Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) pada bulan Januari hingga Juni dilaporkan terjadi kekerasan terhadap anak di Indonesia sebanyak 3.087 kasus. Menurut Hj Niken, angka tersebut disebabkan oleh beberapa hal, salah satunya masalah ekonomi di tengah pandemi membuat orang tua cemas dan khawatir sehingga mudah marah dan setres. ‘’Selain itu, ketidaksiapan orang tua dengan kondisi tetap di rumah bersama dan mendampingi anak belajar selama berbulan-bulan, serta ketidaksiapan orang tua dalam mengasuh, membimbing dan mendidik anak,’’ ujarnya.

Karenanya, Hj Niken mengajak para orang tua untuk tetap semangat dalam mendampingi anak, baik belajar dari rumah maupun beraktivitas lainnya. Untuk itu, orang tua perlu memiliki berbagai strategi. Salah satunya, menciptakan suasana rumah yang nyaman dan aman, menciptakan disiplin dalam proses pendampingan anak hingga konsisten dalam kesepakatan yang dibuat.

Dalam waktu yang sama, Rektor Undikma, Prof Kusno mengatakan, bahwa sebagai manusia menyadari Pandemi Covid-19 ini dapat dikatakan sebagai bencana alam, wabah, maupun krisis. Sehingga hal ini merupakan bagian dari ujian untuk menjadi manusia yang sabar. Oleh karenanya dalam pandemi ini, diperlukan kerjasama dari seluruh lapisan masyarakat. ‘’Kita akan mencoba untuk mencari apa yang harus kita lakukan, khususnya untuk masyarakat NTB dalam menghadapi pandemi ini. Setidaknya harus ada solusi terkait kesehatan, pangan sandang, hingga pendidikan,’’ kata Prof Kusno.

Prof Kusno menyampaikan komitmen Undikma untuk terus mendukung dan membantu Pemerintah dalam pendidikan dan pemberdayaan keluarga melalui pengabdian kepada masyarakat. Pada webinar tersebut, TP PKK NTB dengan Undikma melaksanakan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) terkait pendidikan dan pemberdayaan keluarga serta pengabdian kepada masyarakat.

Sementara itu, Wakil Rektor (WR) I Undikma, Dra Ni Ketut Alit Suarti menyatakan, selama Pandemi Covid-19, Undikma memberlakukan sistem online dan terus meningkatkan performa dalam penggunaan e-learning. Di mana, para dosen melakukan pelatihan di bawah asuhan program studi pendidikan teknologi informatika. Hal itu diharapkan mampu mempermudah mahasiswa menerima pelajaran. Terkait nota kesepahaman (MoU) antara TP PKK  NTB dengan Undikma, WR I berharap mampu menciptakan banyak hal yang bisa ditindaklanjuti terutama terkait SDM di Undikma dan dapat membuka kerjasama dengan instansi-instansi lainnya.(Sid)

Kirim Komentar

Leave a Reply