Tak Temukan Wajah Tanjung Luar Tempo Doeloe, Wisatawan Kecewa

Pemerhati dan pelaku wisata Desa Tanjung Luar, Muhammad Saepullah.

Oleh: Lalu M Kamil AB |

LOTIM, LOMBOKTODAY.CO.ID – Tata kelola pariwisata Lombok Timur (Lotim) tampaknya tidak cukup bermodalkan semangat dan geliat yang digerakkan pemerintah, namun membutuhkan image masyarakat dalam mengelola dan menata destinasi hingga memiliki nilai jual tinggi. Ungkapan ini dilontarkan salah seorang pemerhati dan pelaku wisata Desa Tanjung Luar, Muhammad Saepullah dalam sebuah diskusi informal dengan wartawan Lomboktoday.co.id, di pesisir Kampung Toroh, Desa Tanjung Luar, Kecamatan Keruak, Kamis (24/9).

Tokoh terkemuka di desa penghasil ikan terbesar pulau Lombok itu mengungkap pengalaman dirinya yang sering sebagai pemandu wisata di desanya, ternyata nilai jual wisata Tanjung Luar katanya, adalah desa dengan khas ‘’Rumah Panggung’’ yang sebagian besar penduduknya berasal dari bangsa pelaut suku Wajo, Sulawesi Selatan.

Lebih jauh Saepullah mengulas, hingga era tahun 70-an/80-an desa yang terletak di pesisir timur Kecamatan Keruak ini, 99% penduduk masih menggunakan rumah panggung dan itulah yang menjadi magnet daya tarik orang luar untuk senang berkunjung ke Desa Tanjung Luar. Namun sejak era 90-an rumah panggung mulai berganti menjadi rumah permanen batu bata. ‘’Saya sering ditanya sama teman yang ada di luar daerah seperti dari Jakarta dan daerah Jawa lainnya yang kebetulan masa lalu sering ke Tanjung Luar. Mereka menanyakan, mana ciri khas rumah panggung Tanjung Luar yang dulu,’’ tutur Saepullah.

Selain kampung rumah panggung, era tahun 80-an di Desa Tanjung Luar masih ditemukan di setiap rumah panggung para penenun khas kain Wajo dan kain Bugis. Seiring dengan hilangnya bangunan rumah panggung, para penenun yang menjadi rutinitas wanita desa ini ikut tertelan bumi. Padahal lanjut Saepullah, menurut para tetua dulu, kegiatan menenun bagi istri para nelayan memiliki makna pilosofis yang tinggi. Menenun sebagai kegiatan mengisi waktu sembari menunggu suami pulang dari melaut sekaligus sebagai simbul kasih sayang sebagai mana merajut benang untuk sarung tenun.

Setiap sarung hasil tenunan akan menjadi sarung pengganti bagi suami yang baru pulang setelah berminggu-minggu bahkan hingga berbulan-bulan melaut. Menyambut suami pulang dengan kain hasil tenunannya, adalah sebagai bukti kesetiaan istri terhadap suami karena si istri rela ditinggal suami untuk mencari nafkah di tengah samudera biru. ‘’Ritual-ritual seperti itu tidak dikenal lagi oleh anak sekarang,’’ ucapnya.

Menurutnya, sejak wajah Tanjung Luar berubah menjadi modern, para wisatawan lokal tidak lagi tertarik datang ke desa yang berbahasa Wajo itu. Dan katanya, inilah yang mempersulit untuk pengembangan destinasi wisata. Saepullah yang pernah menekuni dunia jurnalis ini memiliki obsesi untuk menghidupkan kembali tradisi leluhur Tanjung Luar yang diyakininya sebagi khas desanya.

Kendati demikian, Saepullah tidak terlalu pesimis, masih ada destinasi lain yang dinilainya layak untuk dijual seperti panorama alam Tanjung Luar di waktu senja sambil menikmati Sunset, kemudian ada event tahunan pesta tradisional ‘’Selamatan Laut’’, lomba dayung sampan, wisata kuliner khas menu laut dan sebagainya. Saepullah berharap Pemerintah Darerah baik Pemprov NTB maupun Pemkab melalui Dinas Pariwisata Kabupaten Lotim mau memberikan dukungan lebih optimal lagi baik dukungan pembinaan maupun finansial.(Sid)

Kirim Komentar

Leave a Reply