BNPT Dorong Perempuan sebagai Agen Perdamaian

LOKAKARYA: Acara Pelibatan Perempuan sebagai Agen Perdamaian dalam Pencegahan Radikalisme dan Terorisme melalui Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme  (FKPT) Provinsi NTB, di Hotel Lombok Astoria Mataram, Rabu (21/10). (FKPT NTB/Istimewa)
LOKAKARYA: Acara Pelibatan Perempuan sebagai Agen Perdamaian dalam Pencegahan Radikalisme dan Terorisme melalui Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme  (FKPT) Provinsi NTB, di Hotel Lombok Astoria Mataram, Rabu (21/10). (FKPT NTB/Istimewa)

Oleh: Abdul Rasyid Z. |

MATARAM, LOMBOKTODAY.CO.ID – Sebagai upaya meminimalisir masuknya paham radikalisme, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) bekerjasama dengan Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Provinsi NTB mendorong perempuan sebagai agen perdamaian di segala lini kehidupan.

Hal itu dikemukakan Ketua FKPT Provinsi NTB, HL Syafi’i saat membuka acara Pelibatan Perempuan sebagai Agen Perdamaian dalam Pencegahan Radikalisme dan Terorisme melalui Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Provinsi NTB, di Hotel Lombok Astoria Mataram, Rabu (21/10).

Kegiatan FKPT NTB ini melibatkan 90 orang peserta dari perwakilan organisasi masyarakat (Muslimat NU, Aisyiyah, Wanita Islam, Ipemi), dari organisasi lintas agama (Matakin, WHDI, WKRI, Majelis Taklim) dan Organisasi Pemerintah (PKK, BKOW, DP32AKB, Binda).

Syafi’i berharap melalui kegiatan ini kaum perempuan terutama yang terlibat dalam organisasi perempuan agar memiliki pemahaman tentang radikalisme dan terorisme. Menurutnya, kesadaran untuk menanggulangi radikalisme dan terorisme, merupakan tanggungjawab bersama, tidak terkecuali kalangan perempuan. Dibutuhkan sinergi yang kuat antara pemerintah dan masyarakat, agar permasalahan terorisme bisa diatasi dengan baik.

Syafii menyebutkan, salah satu bukti berkembangnya ancaman terorisme adalah semakin merebaknya radikalisme beragama yang merupakan cikal bakal aksi terorisme. Aksi kekerasan seperti bom bunuh diri, kini juga mulai melibatkan kalangan perempuan. Sebut saja aksi bom bunuh diri satu keluarga yang terdiri dari seorang ibu bersama suami dan empat orang anaknya terlibat aksi bom bunuh diri beberapa gereja di Surabaya. Kemudian aksi bom bunuh diri di Sibolga yang melibatkan ibu dan bayinya.

Menurutnya, aksi terorisme memberikan dampak yang sangat luas di tengah masyarakat, baik itu dampak sosial, ekonomi, bahkan psikologis. Kelompok-kelompok teroris ini menguasai IT dan propaganda secara massif. Kalau perempuan dilibatkan dalam aksi terorisme, maka akan membawa pengaruh psikologis yang sangat besar kepada masyarakat yang tidak memahami apa hakikat kejahatan yang dianggap sebagai perjuangan dan jihat. Oleh karena itu, Syafi’i mengingatkan perempuan sebagai ibu  untuk berhati-hati menjaga anak dan keluarganya dari pengaruh radikalisme di tengah masyarakat. ‘’Ibu menjadi guru pertama yang akan mengajarkan putra-putrinya untuk tubuh menjadi  orang yang berkarakter sesuai harapan bangsa,’’ ujarnya.

Sementara itu, Kabid Perempuan FKPT NTB, Atun Wardatun mengatakan, ada beberapa Pondok Pesantren di NTB yang terpapar radikalisme. Hasil penelitian baru di NTB menyebutkan, ada beberapa faktor penyebab mengapa radikalisme bisa tumbuh subur di daerah ini, terutama di kalangan generasi muda yang berumur antara 17-24 tahun. Pertama, faktor geografis di mana daerah NTB yang masyarakatnya mayoritas beragama Islam merasa kalah bersaing secara ekonomi dengan masyarakat Bali dan NTT yang notabenenya di luar Islam.

‘’Mereka tidak menyadari bahwa perkembangan ekonomi di dua provinsi ini bukan karena agama, namun semangat kerja mereka membangun daerahnya. Faktor lainnya yaitu masalah ideologi yang ditanamkan menjerumuskan kita. Sejarah membuktikan ada beberapa kasus radikalisme dan terorisme yang pernah terjadi di Indonesia yang melibatkan warga Bima. Misalnya saja kasus Lampung, kasus Tanjung Priok, kasus Cikini, dan beberapa kasus terorisme di Bima belakangan ini,’’ katanya.

Mereka yang terlibat dalam aksi terorisme, biasa mereka ini terjebak dalam fundamentalisme, kemudian mengarah ke radikalisme, dan ujung-ujungnya terorisme. Fundamentalisme  adalah gerakan global, muncul di semua kepercayaan dan respon terhadap modernisasi yang Anti Keragaman, Anti Demokrasi, Anti Pancasila. Gerakan fundamentalisme ini kemudian bisa mengarah ke radikalisme, yaitu paham atau aliran yang menginginkan perubahan atau pembaharuan sosial dan politik dengan cara kekerasan atau drastis. Radikalisme memunculkan sikap ekstrem dalam aliran politik.

Deteksi awal orang yang terpapar radikalisme terorisme antara lain intoleran tidak menghormati pendapat yang ada, fanatik terhadap pendapat sendiri dan memandang dirinya saja yang benar, sedangkan orang lain sesat, menutup diri dari pergaulan dengan masyarakat di luar alirannya, menghalalkan kekerasan dan selalu mengeluarkan kata-kata kafir bid’ah, murtad dan jihad.

Ujung dari orang terpapar radikalisme ini yaitu munculnya terorisme, yaitu perbuatan yang menggunakan kekerasan atau ancaman kekerasan yang menimbulkan suasana teror atau rasa takut secara meluas. Aksi terorisme dapat menimbulkan korban yang bersifat massal dan atau menimbulkan kerusakan atau kehancuran terhadap objek-objek vital yang strategis, lingkungan hidup, fasilitas publik atau fasilitas internasional dengan motif politik, ideologi, atau gangguan keamanan.

Menurut Atun, langkah yang bisa ditempuh untuk melawan radikalisme dan terorisme adalah dengan melakukan deradikalisasi melalui pendekatan kearifan lokal. ‘’Di Bima kita mengenal kearifan lokal bernama Larimpu. Nilai-nilai luhur yang ditanamkan yaitu mahawo, manggawo dan marimpa,’’ ucapnya.

Sementara itu, Riri Khairirah, tim Perempuan Agen Perdamaian  (PAP) dalam materinya memberikan informasi terkait dengan Perempuan yang terlibat aksi terorisme. Mereka yang terlibat Jemaah Islamiyah dan ISIS (Islamic State of Iraq and Syiria) mulai merekrut kader perempuan secara sistematis. Ada pergeseran ideologi di internal kelompok afiliasi dengan ISIS. Pergeseran makna jihad yang di kalangan kelompok radikal dari jihad tandim (diketahui pimpinan/ berdasarkan fatwa) menjadi   (setiap orang bisa melakukan jihad) & jihad dhafi’ (defensif dari asing). Ini artinya setiap orang laki-laki, perempuan dan anak-anak memiliki tanggungjawab yang sama untuk menjalankan amaliyah jihad. Pergi ke surga satu keluarga dipilih daripada hidup penuh stigma dan bullying. Data mutakhir menyebutkan dari 2015-2019 lebih 1.100 tersangka teroris ditangkap, terbanyak 2018 sekitar 390-an. Tahun 2019, 300-an ditangkap dan mayoritas berafiliasi ke ISIS.

Dosen dari Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia di Jakarta ini  memberikan tips yang bisa dilakukan kalangan perempuan untuk menjadi agen perdamaian yaitu melakukan pencegahan (melindungi keluarga, masyarakat yang rentan dari perekrutan, kepedulian), melakukan narasi alternatif online dan offline, mendampingi pelaku/mantan pelaku kekerasan (disengagement and deradicalization), serta mendukung para korban terorisme. Ada usulan menarik yang dilontarkan peserta diskusi untuk mencegah radikalisme tumbuh di NTB yaitu, perlunya pembekalan terhadap buruh migran, memperbanyak media kampanye untuk perdamaian, mengisi materi pengajian tentang deradikalisasi, menggunakan seni lokal sebagai media perdamaian.(Sid/fkpt)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here