Antisipasi Serangan Siber, Pemprov NTB Launching NTBProv-CSIRT

Sekda NTB, HL Gita Ariadi (dua dari kanan) didampingi Kadis Kominfotik NTB, I Gede Putu Aryadi (paling kanan) foto bersama Deputi Bidang Penanggulangan dan Pemulihan Badan Siber dan Sandi Negara, Mayjen TNI Yosep Setiawan usai acara launching NTBProv-CSIRT (Computer Security Incident Response Team), di Hotel Lombok Astoria Mataram, Rabu (4/11).
Sekda NTB, HL Gita Ariadi (dua dari kanan) didampingi Kadis Kominfotik NTB, I Gede Putu Aryadi (paling kanan) foto bersama Deputi Bidang Penanggulangan dan Pemulihan Badan Siber dan Sandi Negara, Mayjen TNI Yosep Setiawan usai acara launching NTBProv-CSIRT (Computer Security Incident Response Team), di Hotel Lombok Astoria Mataram, Rabu (4/11).

Oleh: Abdul Rasyid Z. |

MATARAM, LOMBOKTODAY.CO.ID – Sekretaris Daerah (Sekda) NTB, HL Gita Ariadi melaunching pembentukan NTBProv-CSIRT (Computer Security Incident Response Team), di Hotel Lombok Astoria Mataram, Rabu (4/11). NTBProv-CSIRT adalah sebuah tim yang bertugas untuk mengidentifikasi dan merespon seluruh insiden dan serangan siber dalam sistem aplikasi dan jaringan komputer pemerintahan di Provinsi NTB.

Menurut Sekda, sebagai daerah yang terbuka dengan masyarakat yang terus berkembang dengan Teknologi Informasi, sudah saatnya Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTB memiliki kesiapan dan ketangguhan dalam menangkal berbagai ekses dan ancaman serangan siber yang akan terjadi. ‘’Sebuah daerah yang sukses atau sebuah proses pembangunan akan selalu melahirkan anak kembar yaitu sukses dan ekses. Sukses kita ikhtiarkan tetapi ekses juga kita antisipasi, sehingga forum ini akan menjadi satu tim dan akan ditingkatkan di masa mendatang,’’ kata Sekda.

Oleh karenanya, secara khusus Sekda mengapresiasi pembentukan NTBProv-CSIRT ini, karena relevan dengan salah satu misi NTB, yaitu NTB Tangguh dan Mantap. ‘’Tangguh dan Mantap selalu dikonotasikan dengan NTB yang familiar dengan daerah berpotensi kebencanaan. Salah satu bencananya juga adalah Siber. Adanya siber tentu dibutuhkan pasukan,’’ ujarnya.

Sementara itu, Deputi Bidang Penanggulangan dan Pemulihan Badan Siber dan Sandi Negara, Mayjen TNI Yosep Setiawan yang mewakili Kepala BSSN mengungkapkan bahwa CSIRT merupakan organisasi atau tim yang bertanggung jawab untuk menerima, meninjau dan menggapi aturan dan aktivitas insiden keamanan CSIRT. ‘’CSIRT ini kalau dalam bahasa Indonesianya adalah tim tanggap insiden keamanan siber. Jadi ini tim yang selalu merespon dan memonitor pertukaran sistem elektronik di ruang siber, di sektor organisasi pemerintah daerah maupun kementerian lembaga,’’ katanya.

Yosep berharap agar CSIRT dapat mendukung Pemerintah NTB agar dapat mengelola Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE) lebih baik. ‘’Kami berharap agar CSIRT dapat mendukung penerapan SPBE di Pemerintah Provinsi NTB untuk mencapai tujuan SPBE di antaranya untuk mewujudkan tata kelola pemerintah yang bersih, transparan, efektif dan akuntabel,’’ ujarnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kominfotik Provinsi NTB, I Gede Putu Ariyadi dalam laporannya mengungkapkan bahwa serangan siber berlangsung secara massif. Sejak tahun 2018 lalu, tercatat sekitar 30 kasus terjadinya serangan siber pada situs Pemerintah Provinsi NTB. Sedangkan berdasarkan pemantauan sistem Honeypot BSSN, sepanjang tahun 2020 terdeteksi 127 percobaan serangan malware yang ditujukan ke data center Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTB. ‘’Oleh karenanya, dengan dibentuknya NTBProv-CSIRT melalui Keputusan Gubernur NTB No.555-78 Tahun 2020, maka Pemprov NTB akan dapat melakukan tindakan pencegahan, pemulihan dan penanggulangan berbagai insiden siber yang terjadi,’’ ungkapnya.

Mantan Kabag Pemberitaan di Biro Humas dan Protokol Setda Provinsi NTB ini juga menjelaskan tujuan kegiatan Launching NTBProv-CSIRT yaitu memperkenalkan Tim NTBProv-CSIRT dan untuk meningkatkan kepedulian terhadap ancaman keamanan siber di Provinsi NTB dan yang ketiga meningkatkan kerjasama dan sinergitas pengamanan siber antar instansi.

Terdapat tiga layanan NTBProv-CSIRT, yakni Layanan Reaktif, yang terdiri dari layanan pemberian peringatan terkait dengan laporan insiden siber, kemudian layanan penanggulangan dan pemulihan insiden serta layanan penanganan kerawanan dan layanan penanganan artifak. Layanan Proaktif, di antaranya adalah pemberitahuan hasil pengamatan terkait dengan ancaman baru serta layanan Security Assessment dan layanan Security Audit dan Layanan Peningkatan Kesiapan Penanganan Siber, di antaranya adalah layanan konsultasi, pembangunan kesadaran dan kepedulian terhadap keamanan siber dan pembinaan terkait kesiapan penanggulangan serta pemulihan insiden.(Sid)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here