Jadi Sarana Ekspresi Generasi Muda, Gubernur NTB Buka Lomba LBKK

52
Gubernur NTB, H Zulkieflimansyah saat membuka Lomba Baca Kitab Kuning (LBKK), di Aula Kantor DPW PKS NTB, Jalan Lingkar Selatan Mataram, Kamis (3/12).
Gubernur NTB, H Zulkieflimansyah saat membuka Lomba Baca Kitab Kuning (LBKK), di Aula Kantor DPW PKS NTB, Jalan Lingkar Selatan Mataram, Kamis (3/12).

Oleh: Abdul Rasyid Z. |

MATARAM, LOMBOKTODAY.CO.ID – Gubernur NTB, H Zulkieflimansyah membuka Lomba Baca Kitab Kuning (LBKK), yang berlangsung di Aula Kantor Dewan Pimpinan Wilayah Partai Keadilan Sejahtera (DPW PKS) Provinsi NTB, Jalan Lingkar Selatan Mataram, Kamis (3/12).

Dalam sambutannya, Gubernur mengatakan, LBKK ini sebagai sarana bagi generasi muda PKS untuk mengekspresikan apa yang ada dalam hatinya secara eksplisit. Memahami suasana batin dan kultur, terutama yang berasal dari pondok Islam tradisional. ‘’Yang paham tentang pondok, tentu yang pernah berjuang untuk pondok,’’ katanya.

Gubernur berharap, dengan hadirnya LBKK ini, maka jembatan pengertian akan terbangun dengan komunitas Islam tradisional, sehingga adanya kecurigaan dengan Partai Keadilan Sejahtera semakin tipis. ‘’Betapa program sederhana yang mampu menghilangkan keraguan antara kita,’’ ujarnya.

Oleh karena itu lanjutnya, LBKK ini bukan terminal akhir, namun merupakan awal, sehingga apa yang diucapkan para santri yang menjadi kesehariannya, mulai diungkap dan diekspresikan, sehingga PKS tidak punya jarak dengan komunitas Islam tradisional. ‘’PKS tidak akan menang, tidak akan besar, sebelum mampu merangkul komunitas pondok dan Islam tradisional,’’ ucapnya.

Gubernur mengingatkan, tantangan kedepan semakin kompleks dan luar biasa. Untuk itu, Gubernur meminta para tokoh, Tuan Guru untuk aktif turun mendatangi pondok, untuk menghilangkan keraguan kepada PKS. ‘’Banyak orang curiga, kalau Gubernurnya dari PKS nanti tidak toleran, namun ketika kader PKS jadi pemimpin, jangankan Islam tradisional, umat non Islam pun kita rangkul,’’ ungkapnya.

Kedepan harus lebih banyak lagi dihadirkan lomba-lomba yang lain, yang mampu melibatkan anak-anak pondok, sehingga semua pondok dan madrasah di NTB merasa bahwa PKS adalah rumahnya sendiri. ‘’Kita harus menjadikan Islam sebagai rahmat bagi semesta alam, partai boleh beda, tapi rahmatan lil alamin tetap menjadi spirit yang harus kita bagikan kepada ummat di seluruh dunia,’’ katanya.(Sid)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here