Sengkarut Buruh Migran, Pemprov NTB Rencanakan MoU dengan Kabupaten/Kota

54
Wagub NTB, Hj Sitti Rohmi Djalillah saat rapat koordinasi dengan jajaran Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi di Kantor Gubernur NTB, Rabu (2/12).
Wagub NTB, Hj Sitti Rohmi Djalillah saat rapat koordinasi dengan jajaran Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi di Kantor Gubernur NTB, Rabu (2/12).

Oleh: Abdul Rasyid Z. |

MATARAM, LOMBOKTODAY.CO.ID – Persoalan tenaga kerja, terutama buruh migran dapat diselesaikan jika aturan ditegakkan. Wakil Gubernur (Wagub) NTB, Hj Sitti Rohmi Djalillah mengatakan, UU 18 Tahun 2017 tentang Perlindungan Tenaga Kerja Migran seharusnya mampu menyelesaikan beberapa persoalan mendasar tentang sengkarut buruh migran, karena secara tegas mengatur pembagian kewenangan tugas dan tanggungjawab masing masing.

‘’Sistem ketenagakerjaan mulai dari pelatihan, pengiriman sampai pemulangan ataupun perlindungan, kalau terjadi masalah dengan tenaga kerja kita sudah diatur jelas di Undang-Undang itu. Tinggal kita mengatur strategi yang jelas mulai dari literasi, rekrutmen dan penanganan masalah bersama kabupaten/kota,’’ kata Wagub saat rapat koordinasi dengan jajaran Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi di Kantor Gubernur NTB, Rabu (2/12).

Wagub menegaskan, harus ada komitmen bersama dengan kabupaten/kota dalam bentuk nota kesepakatan untuk mulai membenahi lagi sistem ketenagakerjaan di NTB. Selain itu, mempersiapkan tenaga kerja yang handal dengan kompetensi tinggi berikut jaminan dan perlindungan serta serapan tenaga kerja lokal di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika harus dipersiapkan mulai sekarang. Mulai dari link and match dengan Dinas Dikbud terkait SMK dan pelatihan-pelatihan tenaga kerja lain seperti BLK harus mampu menjembatani calon tenaga kerja dengan pasar kerja.

Wagub juga mengatakan, Posyandu Keluarga dapat dimanfaatkan untuk literasi tentang sistem rekrutmen, pasar kerja sampai screening untuk menekan tenaga kerja ilegal luar negeri, sehingga peran Disnakertrans kabupaten/kota penting untuk ikut mengintervensi kegiatan Posyandu Keluarga, terutama daerah penyumbang tenaga kerja besar seperti Kabupaten Lombok Timur (Lotim). ‘’Selalu ada cara mengatasi masalah. Temukan dulu di mana masalahnya untuk kita cari solusi bersama lewat MoU,’’ ujarnya.

Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi NTB, Hj Wismaningsih Drajadiah mengatakan, isu strategis tenaga kerja di antaranya; pengangguran terbuka, persaingan kompetensi, penciptaan kesempatan kerja, kualitas penempatan dan lainnya. Angka pengangguran terbuka misalnya, naik 0,94 persen pada periode Agustus 2019-2020 dari sekitar 85 ribu menjadi 100 ribuan orang. Kemudian grade kompetensi level tinggi masih kurang, sehingga dibutuhkan pelatihan lanjutan seperti BLK yang dirasakan masih kurang dalam sarana dan prasarana. ‘’Program unggulan BLK punya daya tampung 1.500, sementara banyak calon tenaga kerja dari SMK atau lainnya kompetensinya masih kurang,’’ kata Wismaningsih.

Wismaningsih menjelaskan, selama ini SMK lebih diarahkan menjadi enterpreneur dan bukan keterampilan untuk kebutuhan tertentu di pasar kerja. Analisa pasar kerja dan kebutuhan KEK Mandalika sendiri di sektor hospitality seperti hotel dan lainnya untuk posisi tertentu masih sangat kurang. Belum lagi untuk sektor lain di KEK Mandalika saja untuk mendukung pasar kerja di sana.

Terkait buruh migran, Wismaningsih menyebut setiap tahun jumlahnya selalu meningkat. Tahun ini, ada sekitar 6.865 TKI yang bekerja. Terbesar di perkebunan kelapa sawit yang berasal dari Kecamatan Sakra, Kabupaten Lombok Timur. Wismaningsih mendukung langkah Wagub untuk mulai lagi membenahi sistem tenaga kerja mulai dari desa/dusun dengan tanggungjawab sesuai UU.(Sid)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here