Trauma Healing Relawan RSTKA untuk 23 Anak Pengungsi Gempa Sulbar

156
Afin Murtiningsih dan Teguh Wahyu Utomo yang merupakan relawan RSTKA foto bersama dengan anak-anak pengungsi gempa Sulbar.

Oleh: Tomi |

MAJENE, LOMBOKTODAY.CO.ID – ‘’Topi saya bundar, bundar topi saya. Kalau tidak bundar, bukan topi saya’’. Begitu lagu yang dinyanyikan Afin Murtiningsih, S.Psi, saat memberikan ice breaking terhadap 23 anak pengungsi korban gempa di Majene, Provinsi Sulawesi Barat (Sulbar). Ice breaking di salah satu tenda di kamp pengungsian RS Pratama di Desa Salutambung ini, untuk penilaian awal kondisi trauma psikis yang dialami anak-anak.

Setelah diajak bermain-main di dalam tenda 5 x 5 meter, anak-anak diberi sugesti. Caranya, Afin meminta setiap anak memegang pundak teman di sebelah kanan mereka. Ia memerintahkan anak-anak menepuk pundak rekan mereka sambal menirukan kata-katanya; ‘’Walau dalam pengungsian, kita harus bersyukur, berbagi, dan bergembira’’.

Sambil bermain, Afin dan Teguh Wahyu Utomo melakukan penilaian trauma dengan mengkaji isi hati anak-anak. Caranya, setelah membagi buku-buku sumbangan Rotary Club, anak-anak diminta menuliskan atau menggambarkan apa yang akan mereka lakukan setelah boleh pulang di rumah masing-masing.

Maka, asyiklah anak-anak dengan kertas dan bolpoin di tangan mereka. Karena kebanyakan berusia di bawah delapan tahun, mereka lebih memilih menggambar. Bermacam-macam gambar mereka coretkan di kertas putih. Reski Nur Hidayah menggambar pot dengan tiga tangkai bunga. Parhun menggambar rumah dengan pintu yang terhubung dengan jalan setapak menuju jalan raya dan anak bermain di taman. Rasti menggambar pemandangan berupa tiga gunung, awan, matahari, rumah dengan bunga-bunga, jalan raya dan sawah.

Ahmad yang menggambar rumah dengan sapu di atasnya menjelaskan, ia ingin bersih-bersih rumah setelah dibolehkan pulang. Ical yang gambarnya tidak berbentuk, bercerita ia ingin naik sepeda. Satria, yang menggambar rumah dengan pohon dan burung, mengaku ingin bermain di rumah.

Dari penilaian awal, tidak tampak ada trauma psikologis di antara anak-anak pengungsi di pengungsian RS Pratama di Desa Salutambung. Jika ada anak yang tidak mau mengungkapkan perasaannya, itu lebih disebabkan ia pemalu. Ekspresi cemas tidak tampak, tapi lebih tampak ekspresi malu. ‘’Kondisi psikis mereka cukup normal untuk anak-anak yang tinggal di pengungsian. Mereka masih bisa bermain bersama dengan ceria. Mereka harus tinggal di pengungsian karena BMKG masih memberlakukan kondisi tanggap bencana. Mereka masih bisa sesekali menjenguk rumah pada siang hari, tapi tidur di tenda-tenda pada malam hari,’’ kata Afin.(Sid)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here