Perangi IPM Rendah dan AKB Tertinggi, Pemkab Lotim Angkat Senjata Digital

211
Bupati Lotim, HM Sukiman Azmy (tengah) saat mengikuti webinar bertema ‘’Digitalisasi Kesehatan sebagai Strategi Program Nasional Penurunan AKI, AKB, dan Stunting di Masa Pandemi Covid-19’’.

Oleh: Lalu M Kamil AB |

LOMBOK TIMUR, LOMBOKTODAY.CO.ID – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lombok Timur (Lotim) masih harus berjuang keras melawan rendahnya posisi daerah ini pada Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Semula pada tahun 2019 lalu, Lotim dalam posisi 9 dari 10 kabupaten/kota di NTB. Baru di tahun 2020 kemarin naik satu digit sehingga berada pada posisi 8.

Pemkab Lotim di bawah kepemimpinan paket SUKMA tak berhenti sampai di sini, berbagai stategi dilakukan untuk melawan ketertinggalan di bidang peningkatan IPM ini. Namun, problem yang dihadapi terkait IPM ternyata bersandingan dengan munculnya Angka Kematian Bayi (AKB) yang masih menempati urutan tertinggi se-NTB dan Angka Kematian Ibu (AKI) menyusul angka stunting.

Bupati Lombok Timur, HM Sukiman Azmy berkomitmen kuat untuk mengambil sikap perang melawan musuh yang masih menjadi momok menghantui pikiran orang nomor satu di bumi brmotokan Patuh Karya ini. Salah satu upaya yang menjadi bagian dari komitmen tersebut adalah digitalisasi guna menurunkan angka kematian ibu (AKI), angka kematian bayi (AKB) dan angka stunting.

Hal itu terungkap pada saat Bupati Sukiman mengikuti webinar bertema ‘’Digitalisasi Kesehatan sebagai Strategi Program Nasional Penurunan AKI, AKB, dan Stunting di Masa Pandemi Covid-19’’, yang berlangsung pada Kamis (4/2). Karenanya, Bupati memastikan tahun 2021, pada APBD Perubahan, program tersebut akan dilaksanakan bekerja sama dengan Sehati Group. Bupati Sukiman menaruh harapan besar penurunan AKI, AKB, dan stunting menjadi lebih signifikan.

AKI, AKB, dan stunting masih menjadi persoalan di daerah ini, apa lagi mengingat Lotim sesuai data Provinsi NTB untuk AKB menempati posisi tertinggi di NTB dengan angka mencapai 171 dari 516 kematian di Provinsi NTB. Sementara angka kematian ibu maternal angkanya mencapai 29 kasus dari 97 kasus di Provinsi NTB.

Upaya digitalisasi melalui Tele-CTG yang merupakan alat cardiotocography portable tersebut diharapkan dapat memberikan data akurat kondisi ibu hamil sebagai deteksi dini faktor risiko kehamilan sekaligus mendorong peningkatan kemampuan bidan dalam pengumpulan data untuk evaluasi program, serta dapat menjadi bentuk monitoring tenaga kesehatan & ibu hamil pada fasilitas kesehatan.(Sid)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here