Dekranasda NTB Dorong Produk UMKM Dipasarkan Melalui Digitalisasi

623
Ketua Dekranasda NTB, Hj Niken Saptarini Widyawati saat mengunjungi dan silaturahmi dengan Pengrajin Anyaman Lontar, di Desa Suradadi, Kecamatan Terara, Kabupaten Lotim, Kamis (18/2).

Oleh: Abdul Rasyid Z. |

LOMBOK TIMUR, LOMBOKTODAY.CO.ID – Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), Hj Niken Saptarini Widyawati mendorong pengrajin maupun UMKM di Kabupaten Lombok Timur (Lotim) untuk memasarkan produk usahanya dengan memanfaatkan platform digital.

‘’Pemanfaatan teknologi digital menjadi keharusan di era IT. Tujuannya untuk memperkenalkan dan menjual produk usaha UMKM agar mendongkrak ekonomi masyarakat pengrajin,’’ kata Ketua Dekranasda NTB, Hj Niken Saptarini Widyawati saat mengunjungi dan silaturahmi dengan Pengrajin Anyaman Lontar, di Desa Suradadi, Kecamatan Terara, Kabupaten Lotim, Kamis (18/2).

Menurut Hj Niken, salah satu cara untuk meningkatkan pemasarannya dengan menggunakan platform digital agar produktifitas dapat dijangkau oleh berbagai konsumen baik di daerah maupun seluruh pasar Indonesia. Apalagi, NTB memiliki banyak sekali potensi yang terus dapat ditingkatkan. Baik dari sisi proses produksi maupun sisi pemasarannya.

Sehingga, penguatan kapasitas dan daya saing pengrajin perlu terus dibina dan ditingkatkan. Termasuk mempersiapkan SDM yang memahami dan menguasai digital atau IT. Pengarajin-pengrajin harus dilatih dan diberikan pelatihan agar memahami platform digital, mengetahui market place, selain memasarkan produk melalui offline dapat mengusai pasar digital.

Dekranasda Provinsi NTB mendukung terbentuknya NTBMall yang sudah berjalan dengan baik. Sehingga pengrajin maupun UMKM di Kabupaten/Kota dapat memanfaatkannya sebagai media penjualan atau memasarkan produknya. Tidak hanya itu, lanjut Hj Niken, Dekranasda NTB juga terus mendorong Dinas Perindustrian mempromosikan keberadaan NTBMall sebagai wadah menampung dan menjual produk lokal masyarakat. Dengan cara mendata produk hasil produksi dari UMKM untuk dipasarkan baik melalui online maupun offline. ‘’Kami terus mengimbau pengelola NTBMall untuk turun ke lapangan memperkenalkan dan mempromosikan desa wisata dan potensi kerajinan yang dimiliki desa tersebut,’’ ujarnya.

Bukan hanya potensi kerajinan yang diangkat dan dipromosikan, namun potensi-potenai lain yang menjadi usaha masyarakat lokal juga harus terus disyiarkan. Bahwa betapa kaya potensi kekayaan alam yang dimiliki NTB. Di samping eksistensi dan keberadaan pengrajin sangat didukung oleh Dekranasda. Oleh sebab itu, upaya penguatan dan support kepada pengrajin terus dibangun. Dekranasda NTB terus menggali potensi dan menginvetarisir pengrajin di seluruh Kabupaten/Kota. Sehingga daerah memiliki database pengrajin atau UMKM se-NTB.

Upaya dan langkah yang sudah dilakukan oleh Dekranasda NTB bersama OPD pada leading sektor ini terus dilakukan. Sehingga dapat diketahui kekurangan dan kelemahan pengrajin, baik secara finansial, pemasaran dan bentuk penguatan lainnya. ‘’Ini salah satu cara kami untuk memetakan potensi dan sisi mana pengrajin serta UMKM perlu bantuan,’’ ucapnya.

Diakui Hj Niken, NTB merupakan daerah yang dianugerahi potensi alam dan SDM yang luar biasa. Termasuk kearifan lokal pada potensi masyarakatnya. Contoh potensi yang sudah menasional bahkan mendunia adalah tenun, ketak, olahan mutiara, gerabah dan masih banyak produk lain yang memiliki potensi untuk dikembangkan dan dikemas agar memiliki pasar dan disukai konsumen. Tentunya harus dikembangkan dan olah dengan baik untuk meningkatkan PAD dan ekonomi masyarakat. ‘’Beberapa desa yang kita kunjungi hari ini memiliki kerajinan yang kualitasnya baik, seperti anyaman lontar, gerabah, anyaman bambu, herbal minyak kayu putih, dapat menjadi produk penunjang,’’ ungkapnya.

Apalagi saat ini trend produk arahnya ekofrendly atau ramah lingkungan. Jadi, anyaman lontar ataupun bambu menjadi alternatif sebagai packaging atau pembukus dan soevenir yang ramah lingkungan, bersahabat dengan alam dan tanpa menggunakan bahan dasar plastik.

Hj Niken juga meminta kepala desa di beberapa desa yang dikunjungi seperti Desa Penakak, Masbagik Timur sebagai penghasil gerabah dan Desa Montok Gading, Tete Batu Selatan, mengaktifkan kembali BUMDes atau koperasi untuk menampung dan memasarkan hasil produksi pengrajin di desa. Sekaligus wadah dan mitra pengrajin meningkatkan daya saing dan kualitas produk. Sedangkan melalui silaturahmi ini, dijelaskan Hj Niken, beberapa mitra Dekranasda seperti Bank NTB Syariah dan BI wilayah NTB, mengaku siap membantu termasuk untuk permodalan.

Kepala Dinas Pariwisata Provinsi NTB, HL Moh Faozal mengatakan, kunjungan Dekranasda NTB merupakan langkah dan upaya untuk mensupport pengrajin di era Pandemi Covid-19. Karena menurutnya, beberapa desa wisata di NTB harus terus produktif jelang perhelatan MotoGP dan menggeliatkan ekonomi masyarakat. ‘’Kita sebentar lagi akan menerima ribuan tamu dari dalam dan luar negeri, maka pengrajin yang ada di desa wisata harus terus aktif dan bekerja untuk menghasilkan produk sebagai souvenir di MotoGP 2021 di Mandalika,’’ kata Faozal.

Kepala Desa Suradadi, Yakim yang menjabat setahun ini, mengaku warganya hampir 70 persen ibu-ibu adalah pengrajin. Ada yang tergabung dalam kelompok dan diakomidir BUMDes. Saat ini, katanya, di Desa Suradadi memilik 5 kelompok pengrajin anyaman lontar, dengan anggota masing-masing 20-25 orang.

Selama ini, hasil kerajinan masyarakat banyak dipasarkan ke luar daerah seperti Bali maupun daera lain. Namun, dengan diaktifkan kembali BUMDes, pemasarannya akan dikelola bersama oleh BUMDes dan kelompok. ‘’Kunjungan ini dapat memotifasi kami, sehingga gairah masyarakat semakin meningkat untuk terus berkarya,’’ katanya.

Sementara itu, beberapa pengrajin menyampaikan hal yang sama, seperti hambatan dan persoalan dengan usaha kerajinannya. Salah satunya Baiq Mulyani (63), warga Desa Suradadi menggeluti usaha anyaman lontar sejak umur 20 tahun.

Ibu yang memilik 2 orang anak ini berprofesi sebagai Ibu Rumah Tangga, kesehariannya tidak terlepas dari kerajinan anyaman lontar. Seperti topi, tas, dompet, kipas tempat botol. Ia mengaku dapat mengayam 5-10 tempat botol dengan harga Rp20.000/hari.

Namun, kesulitannya saat ini adalah pemasaran dan bahan baku daun lontar. Karena harus dibeli dari Bima. Maka, ia meminta Dekranasda NTB untuk membantu menyediakan bakan bakunya. ‘’Selain itu, kami butuh modal juga, termasuk pasar, namun adanya BUMDes dan usaha online ini saya kira cukup membantu, kami minta kami dilatih,’’ katanya.

Usai mengunjungi dan silaturahmi denga pengrajin lontar di Desa Suradadi, rombongan Ketua Dekranasda NTB beserta pengurus dan kepala OPD meninjau gerabah hasil karya pengrajin di Desa Penakak. Setelah itu, Dekranasda bersilaturahmi dengan pengrajin Desa Tete Batu Selatan. Kemudian dilanjutkan dengan mengunjungi pengrajin anyaman bambu Desa Montong Betok.

Ketua Dekranasda NTB bersama pengurus, kepala OPD, perwakilan PLN Wilayah NTB, Bank NTB Syariah, Bank Mandiri dan BI NTB berkesempatan meninjau destinasi wisata Mandalika, Kuta, Kabupaten Lombok Tengah (Loteng) untuk melihat Stall Bazar Mandalika.(Sid)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here