Cegah ‘’Merarik Kodek’’, Bupati Lotim Minta Desa Bikin Perdes

370
Suasana kegiatan sosialisasi pencegahan perkawinan usia dini dan Optimalisasi Kampung KB yang dilaksanakan di ruang rapat utama Kantor Bupati Lotim, pada Kamis (4/3).

LOMBOK TIMUR, LOMBOKTODAY.CO.ID – Maraknya kasus ‘’merarik kodek’’ alias perkawinan usia dini, menjadi atensi serius Pemerintah Kabupaten Lombok Timur (Pemkab Lotim). Dalam kaitan itu, Pemkab Lotim menggelar sosialisasi pencegahan perkawinan usia dini dan Optimalisasi Kampung KB yang dilaksanakan di ruang rapat utama Kantor Bupati Lotim, pada Kamis (4/3).

Sosialisasi tersebut bertujuan untuk menekan angka pernikahan usia anak dan dampaknya bagi kesejahteraan masyarakat. Sosialisasi ini diikuti seluruh Camat, UPT P3AKB, dan Kantor Urusan Agama (KUA) se-Kabupaten Lotim.

Bupati Lombok Timur, HM Sukiman Azmy dalam kesempatan tersebut menyampaikan, terdapat 3 unsur pokok yang berkaitan dengan pernikahan usia anak. Tiga unsur tersebut adalah Camat, Kepala KUA dan UPTD KB kecamatan. Karena itu, Bupati memberi instruksi kepada Camat agar segera menyampaikan kepada desa untuk membentuk Peraturan Desa (Perdes), paling lambat 31 Maret 2021.

Bupati juga mengharuskan pada akhir April 2021 semua desa menjadi Kampung KB. Bupati mengharuskan pula agar pada tanggal 31 Mei 2021 seluruh Posyandu di Kabupaten Lotim sudah menjadi Posyandu Keluarga. Menutup arahannya, Bupati berharap semakin banyak peserta KB di masing-masing wilayah, menurunnya angka kematian bayi dan ibu melahirkan, serta berkurangnya angka putus sekolah.

Kepala BKKBN Provinsi NTB mengakui pernikahan usia dini merupakan salah satu penyebab timbulnya berbagai masalah kesehatan pada ibu ataupun anak. Hal ini dikarenakan reproduksi perempuan pada usia di bawah 20 tahun dikategorikan belum siap.

Selain dapat menyebabkan kematian pada ibu dan anak, dampak lain yang ditimbulkan antara lain stunting pada anak dan kanker leher rahim pada ibu. Selain itu, kontribusi ibu di bawah usia 20 tahun pada kelahiran bayi dengan berat lahir rendah (KBBLR) juga sangat tinggi.

Sementara itu, Kepala Dinas DP3AKB Lotim, Ahmat menyoroti kualitas SDM Kabupaten Lombok Timur yang masih rendah. Hal tersebut ditandai peringkat IPM Kabupaten Lotim yang berada di posisi 8 dari 10 kabupaten/kota se-NTB. Menurutnya, hal ini tidak lepas dari berbagai permasalahan di bidang pendidikan dan kesehatan. Masalah yang masih dihadapi dalam bidang kesehatan antara lain tingginya angka kematian ibu, angka kematian bayi, dan status gizi balita termasuk stunting.

Menurutnya, hal ini disebabkan masih tingginya angka pernikahan dini di Kabupaten Lotim, di mana pada tahun 2020 tercatat sebanyak 42 kasus pernikahan usia anak. Pencegahan pernikahan usia anak dimaksudkan pula mewujudkan anak yang berkualitas, mencegah terjadinya kekerasan dalam rumah tangga.(LMK)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here