FJLT Siap Giring Oknum Anggota Satpol PP ke Jalur Hukum

465
Ketua FJLT, Muh Rusliadi (kiri) dan Ketua FWMOL, M Syamsul Rizal (kanan).

LOMBOK TIMUR, LOMBOKTODAY.CO.ID – Puluhan wartawan yang tergabung dalam Forum Jurnalis Lombok Timur (FJLT) mengecam aksi premanisme oknum anggota Satpol PP Lotim inisial SP yang melakukan tindakan kekerasan fisik dengan mencekik, menendang, dan mendorong salah seorang jurnalis saat akan meliput di kantor Bupati Lotim hanya karena persoalan spele.

Atas kesepakatan bersama antara Ketua FJLT, Muh Rusliadi dengan Ketua Dewan Penasehat FJLT, Lalu M Kamil, Kamis (29/4), bahwa atas nama forum siap mengadukan oknum anggota Satpol PP inisial SP ke ranah hukum. ‘’Tindakan ini tidak dapat kami benarkan, dan tak bisa ditolerir. Bukan seharusnya Satpol PP melakukan tindakan fisik dengan dalih apapun,’’ kata Rusliadi.

Menurut Rusliadi, meskipun anggota FJLT atas nama D yang menjadi korban premanisme oknum anggota polisi pengawal Perda itu menyatakan telah memaafkan secara pribadi, namun tidak secara organisasi. ‘’D memang menyatakan maaf secara pribadi, tapi organisasi belum ada i’tikat pelaku kekerasan itu,’’ ujar Rusliadi seraya menyatakan, maka organisasilah yang mengajukan keberatan.

Tak hanya kecaman datang dari FJLT, kecaman terhadap oknum anggota Satpol PP itu juga datang dari Forum Wartawan Media Online (FWMOL) Lombok Timur. Ketua FWMOL, M Syamsul Rizal melalui siaran pers mengutuk keras tindakan kekerasan oknum anggota Satpol PP terhadap salah seorang wartawan media online itu.

Syamsul Rizal menegaskan, tidak seharusnya anggota Satpol PP sebagai pengayom harus melakukan tindakan kekerasan fisik. Melainkan hendaknya harus dengan santun dan ramah dalam menghadapi siapa saja yang ingin masuk ke kantor Bupati Lotim. Karena tidak pernah anggota Satpol PP itu ditempa menjadi orang yang arogansi. ‘’Kalau main pukul dan tendang itu namanya preman, sehingga ini tentunya sangat mencoreng institusi Satpol PP atas ulah oknum anggotanya,’’ katanya.

Karenanya, Syamsul Rizal meminta kepada Kasat Pol PP Lotim untuk menindak tegas anak buahnya yang main arogansi tersebut. Dengan memberhentikan menjadi seorang anggota Satpol PP. apalagi statusnya masih honor, tentunya ini sangat disayangkan. ‘’Jangan karena perbuatan satu orang nama baik Satpol PP akan rusak, maka lebih baik dipecat saja dari anggota Satpol PP,’’ ujarnya.

Syamsul Rizal juga menyarankan kepada rekan jurnalis yang merasa keberatan dengan perbuatan oknum anggota Satpol PP lebih baik menempuh jalur hukum, meskipun oknum anggota Satpol PP itu telah minta maaf bersama dengan Kasat Pol PP. ‘’Minta maaf bukan berarti kasus hukum akan hilang kalau wartawan Inside Lombok menempuh jalur hukum nantinya, karena tidak terima dengan perbuatan oknum anggota Satpol PP tersebut,’’ ungkapnya.

PWI Lotim Juga Kecam Arogansi Satpol PP Terhadap Wartawan

Sementara itu, Persatuan Wartawan Indonesia ( PWI) Kabupaten Lombok Timur mengecam tindakan represif diduga dilakukan  oknum anggota Satpol PP Lotim terhadap salah seorang wartawan Inside Lombok, Deni saat melakukan liputan di kantor Dinas Pemberdayaan Masyarakat Lotim, pada Kamis (29/4).

‘’Kalau itu (kekerasan fisik) benar dilakukan oknum anggota Satpol PP, maka itu jelas sikap premanisme, dan tidak dibenarkan. Apalagi ini menimpa jurnalis yang dalam menjalankan tugasnya dilindungi UU Pers. Kita mengecam tindakan kekerasan tersebut,’’ kata Ketua PWI Lotim, Ratna Dewi melalui press realesenya.

Ratna, panggilan akrabnya menambahkan, seharusnya sebagai pengayom masyarakat, anggota Satpol PP dalam menjalankan tugasnya bisa bersikap mengedukasi bukan malah menunjukkan arogansi kepada masyarakat. ‘’Bupati sebagai pembina langsung Satpol PP harus memberikan perhatian serius kepada anggotanya agar bisa bersikap yang baik dalam menjalankan tugasnya,’’ tegasnya.

Untuk itu, kata Pemred Selaparang TV ini, tindakan ini harus menjadi perhatian serius, dan jangan terulang lagi. Jangan anggap sepele tindakan sedikit-sedikit main tangan ini, karena sudah tidak masanya. Masyarakat butuh diedukasi. ‘’Kita minta Bupati dan Kasat Pol PP harus mengevaluasi kinerja anggotanya di lapangan. Sikap premanisme aparat itu sangat tidak baik,’’ ujarnya.

Menyikapi terkait insiden tersebut, Sekretaris Daerah (Sekda) Lombok Timur, HM Juaini Taopik menyatakan prihatin sekaligus memohon maaf kepada segenap insan pers pada umumnya, dan khususnya kepada Deni, wartawan Inside Lombok atas perlakuan yang kurang humanis dari anggota Satpol PP Lombok Timur tersebut. ‘’Saya sudah mendirektif Kasat Pol PP untuk mengambil langkah-langkah pembinaan sesuai norma disiplin anggota Satpol PP,’’ kata Sekda.

Atas kejadian ini, pihaknya selaku Koordinator OPD di Pemkab Lombok Timur untuk introsepksi serta mengambil langkah-langkah perbaikan. ‘’Terima kasih atas segala kritikan dari berbagai pihak dan kami jadikan sebagai langkah-langkah pembinaan personil, khususnya dalam penegakan Prokes Covid-19 yang tegas namun tetap humanis. Semoga kolaborasi dan sinergitas antara kita dalam membangun daerah dan mencerdaskan bangsa, khususnya di Lombok Timur tetap terjalin sebagaimana sebelum insiden ini,’’ ujarnya.(Sid)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here