Kasus Kekerasan pada Anak, Wagub NTB: Harus Diselesaikan dari Akarnya

201
Wagub NTB, Hj Sitti Rohmi Djalillah saat menerima audiensi Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Provinsi NTB yang berlangsung di Aula Pendopo Wagub NTB, Rabu (5/5).

MATARAM, LOMBOKTODAY.CO.ID – Anak merupakan aset dan generasi penerus bagi keluarga, masyarakat maupun suatu bangsa. Namun, seiring berjalannya waktu, berbagai kasus yang terjadi pada anak menjadi permasalahan yang serius bagi pemerintah. Salah satunya adalah kasus kekerasan pada anak.

Hal ini juga menjadi perhatian serius Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTB. Menurut Wakil Gubernur (Wagub) NTB, Hj Sitti Rohmi Djalillah bahwa penanganannya harus langsung menuju ke akar masalah. Wagub juga menginginkan agar sosialisasi terkait dengan upaya penyelesaian permasalahan kekerasan pada anak dapat dilakukan secara massif, di samping upaya menemukan akar permasalahan secara ilmiah.

‘’Saya ingin kita menyelesaikan masalah dengan secara ilmiah, jangan hanya covernya saja yang heboh, tetapi akar masalahnya juga harus diperhatikan sebaik mungkin, bisa langsung ditinjau kepada desa tempat kasus tersebut berasal,’’ kata Wagub NTB, Hj Sitti Rohmi Djalillah saat menerima audiensi Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Provinsi NTB yang berlangsung di Aula Pendopo Wagub NTB, Rabu (5/5).

Selain itu, Wagub menuturkan bahwa penyebaran edukasi yang paling efektif di masyarakat dapat dilakukan melalui Posyandu, khutbah masjid dan sekolah yang dapat dikemas semenarik mungkin. ‘’Buat edukasi yang menarik, sehingga itu akan membuat efektif. Kalau misalnya tentang perlindungan anak yang ditayangkan sebuah video bagaimana cara memperlakukan anak dengan baik,’’ ujarnya.

Sementara itu, Ketua Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Provinsi NTB, Sahan mengungkapkan bahwa pihaknya akan terus bersinergi dengan pemerintah dalam menanggulangi kekerasan pada anak. Di antaranya adalah dengan membentuk berbagai program-program seperti Peraturan Desa (Perdes) tentang Pencegahan Pernikahan Anak di Kabupaten Lombok Utara (KLU). Selain itu, juga dibentuk Forum Anak bersama dengan Lembaga Perlindungan Desa yang bertujuan untuk memberikan ruang pada anak untuk saling membaur dalam interaksi yang positif. Seperti pada tahun 2019 lalu, dibangun Pondok Ceria sebagai pemulihan psikis jiwa anak-anak yang didirikan pada 20 titik.

‘’Penguatan kapasitas anak dan keluarga di mana pada masing-masing dusun terus berjalan, di sana ada Posyandu Keluarga, kemudian kami berdayakan dengan adanya khutbah Jumat, di mana LPA menyiapkan 24 judul khutbah Jumat tentang kekerasan anak,’’ ujarnya.(Sid)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here