Oknum Anggota Satpol PP Pemukul Wartawan di Lotim Dapat Sanksi Skorsing

DARI KIRI: Deny (korban), Syaparudin (pelaku), Humaidi (Kabid SDA Satpol PP) dan Sekda Lotim, HM Juaini Taopik.

LOMBOK TIMUR, LOMBOKTODAY.CO.ID – Kasus pemukulan salah seorang wartawan sebuah media online atas nama Deny oleh oknum anggota Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Lotim atas nama Syaparudin yang terjadi beberapa waktu lalu sempat berbuntut ke ranah kepolisian. Korban Deny bersama rekan-rekan melaporkan perkara ini ke Polres Lotim.

Sekitar sepekan bergulirnya kasus ini, suasana di antara kedua belah pihak sempat sama-sama tergiring oleh opini yang berkeseliweran dan memancing reaksi puklik dengan berbagai statemen pro kontra di medsos (media sosial).

Pihak pimpinan Satpol PP Lotim di awal kejadian sempat menggelar pertemuan mendadak di Aula Kantor Satpol PP Lotim setelah didatangi puluhan wartawan. Namun, hasilnya belum memuaskan perasaan para jurnalis karena hanya Kasat Pol PP saja yang menyatakan minta maaf atas peristiwa ini. Sementara oknum pelaku secara pribadi belum ada i’tikad baik untuk buat pernyataan bersalah dan permohonan maafnya.

Rupanya tak ingin persoalan ini berlarut-larut dan mengancam disharmonisasi jurnalis dan jajaran Pemkab Lotim, Sekretaris Daerah (Sekda) Lotim, HM Juaini Taopik selaku pejabat tinggi birokrasi berinisiatif menengahi persoalan dengan mengundang kedua belah pihak.

Melalui sebuah pertemuan yang dipimpin Sekda didampingi Kabag PKP berlangsung di ruang rapat Sekda, pada Rabu (5/5). Selain hadir Deny selaku korban dan pelaku, Syaparudin, masing-masing pihak didampingi atasannya. Deny didampingi pengurus Forum Jurnalis Lombok Timur (FJLT) dan Syaprudin bersama dua orang Kabid di Satpol PP Lotim.

Di depan forum, pelaku Syaparudin menyatakan dengan terbuka bahwa dirinya merasa khilaf bersalah atas tindakan yang dilakukan terhadap saudara Deny. ‘’Saya betul-betul khilaf melakukan tindakan spontanitas. Tindakan itu saya lakukan terdorong emosi sesaat dan saya akui perbuatan saya salah,’’ kata Syaparudin seraya menyatakan permintaan maaf kepada semua wartawan dan khususnya kepada saudara Deny.

Sebaliknya, korban Deny menyatakan secara terbuka memberikan maaf terhadap pelaku. ‘’Saya selaku korban dari awal tidak ingin persoalan ini berlarut-larut dan saya menyatakan memaafkan saudara Syaparudin dengan catatan pelaku harus ada sanksi sebagai epek jera,’’ kata Deny.

Terkait sanksi kepada pelaku kembali dipertegas oleh Ketua FJLT, Rusliadi. Dengan tegas Rusliadi menyatakan perkara saling memberi maaf adalah perkara mudah, namun sanksi tegas bagi pelaku adalah sebuah harga mati. Pernyataan Rusliadi itu diperkuat lagi oleh Ketua Bidang Pembinaan FJLT, Patih Kudus Jaelani. Baik Rusliadi maupun Patih Kudus meminta sanksi tegas ini harus tertulis sebagai efek jera tidak hanya bagi pelaku namun juga bagi yang lain.

Pelaku Syaparudin yang datang bersama Kabid SDA Satpol PP Lotim, Humaidi, kembali menyatakan bersedia menerima risiko atas perbuatannya hingga harus menjalani sanksi yang dijatuhkan oleh atasannya.

Sekda Lotim, HM Juaini Taopik menyebutkan, dirinya selaku Sekda tidak ingin mempertemukan kedua bepah pihak tanpa ada hukuman atau sanksi yang tegas bagi pelaku yang diberikan oleh Kasat Pol PP. Untuk itu, kata Sekda, kepada pelaku telah dijatuhi sanksi berupa skorsing dari kedinasan selama 1 bulan sejak tanggal 4 Mei sampai 3 Juni 2021. Berikut tanpa mendapat penghasilan apapun selama masa skorsing bagi saudara Syaparudin. Mendengar pembacaan sanksi tersebut, pihak korban Deny dan pengurus FJLT menyatakan menyetujui sanksi bagi pelaku. Dan pertemuan diakhiri dengan penandatanganan naskah perdamaian sekaligus semua pihak ‘’bermushofahah’’ berjabatan tangan sebagai tanda berakhirnya masalah.(Kml)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here