Wagub NTB: Penanganan Covid-19 Kita Terkendali

webinar
Wagub NTB, Hj Sitti Rohmi Djalillah (pojok kanan atas) saat mengikuti webinar dalam acara Indonesia Bicara di TVRI, pada Kamis (27/5).

MATARAM, LOMBOKTODAY.CO.ID – Wakil Gubernur (Wagub) NTB, Hj Sitti Rohmi Djalillah menegaskan bahwa, penanganan dan pengendalian pandemi Covid-19 di NTB pasca Idul Fitri dan libur Lebaran berjalan dengan baik. ‘’Kondisi di NTB saat ini masih aman terkendali. Dari data angka kasus 12 (dua belas) hari sebelum dan sesudah Lebaran Idul Fitri naiknya hanya 6,4 persen,’’ kata Wagub NTB, Hj Sitti Rohmi Djalillah, dalam acara Indonesia Bicara di TVRI, pada Kamis (27/5).

Wagub menjelaskan, sebelum Lebaran, angka pasien terpapar Covid-19 sejumlah 453 kasus dan setelah Lebaran naik 482 kasus selama kurun waktu 14 Mei hingga 21 Mei di 10 kabupaten/kota se-NTB. Seperti disampaikan Wagub, bahwa penanganan yang terkendali didasarkan pada persentase kesembuhan dan bed occupancy rate atau ketersediaan tempat tidur di rumah sakit dalam batas normal. Bahkan angka kesembuhan NTB masih di atas rata-rata nasional dan ketersediaan tempat tidur di bawah 50% dari indikator normal.

Selain itu, capaian vaksinasi saat ini sudah menyasar 219.819 orang untuk vaksin dosis pertama atau 195,8 persen dan vaksinasi dosis kedua sudah mencapai 136,1 persen. Hampir dipastikan target vaksinasi bagi tenaga kesehatan (Nakes), pelayanan publik, guru dan lansia (lanjut usia) tidak mengalami hambatan berarti. ‘’Vaksinasi dosis pertama sudah jauh melampaui 100%. Hanya PR (pekerjaan rumah)-nya untuk dosis kedua bagi lansia baru 50,7 persen,’’ ujarnya.

Wagub menambahkan, Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTB juga terus merevitalisasi peran Posyandu Keluarga dari fungsi semula yang hanya melayani kesehatan ibu dan anak sebagai program unggulan, menjadi sarana vaksinasi dan persoalan sosial lainnya seperti remaja dan buruh migran juga edukasi dan literasi untuk berbagai sektor, karena daya jangkaunya sampai ke masyarakat desa dan dusun.

Wagub juga menjelaskan, penggunaan alat Rapid Test Antigen Enram buatan NTB yang telah didistribusikan penggunannya di kabupaten/kota sebagai strategi penanganan. Selain lebih murah, Enram juga memiliki sensitifitas yang cukup baik untuk mendeteksi penyebaran virus dari pemeriksaan setiap orang.

Dalam kesempatan itu, Ahli Pandemi dari Universitas Indonesia (UI), Tri Yunis Miko Wahyono mengatakan, surveillance dan contact tracing bagi Orang Tanpa Gejala (OTG) dan bergejala seharusnya makin ditingkatkan. Karena sejak September 2020 lalu, pemeriksaan PCR yang terbatas dan contact tracing yang menurun secara nasional dikhawatirkan menyebabkan ledakan kasus yang tak terduga dalam masyarakat. Oleh karena itu, Miko menyarankan contact tracing di kabupaten/kota makin digencarkan selain penerapan protokol kesehatan yang terus menerus dan disiplin oleh semua orang. ‘’Ini agar kita tahu penyebarannya di masyarakat, karena perbandingan OTG dan yang bergejala sekarang ini satu berbanding satu setengah. Ini harus diperbaiki sehingga deteksi kasus lebih cepat,’’ kata Miko.

Begitupula dengan vaksinasi dan pembatasan mobilitas yang harus dipercepat dan dibuatkan kebijakan yang tepat dalam mencegah penyebaran virus. Bahkan, NTB saat Rakor penanganan Covid-19 nasional dengan Presiden Jokowi melalui vidcon bersama para kepala daerah beberapa waktu lalu pasca Idul Fitri menyebut bahwa NTB masuk dalam lima besar zona merah daerah yang tertinggi angka kasusnya. Namun demikian, seperti ditekankan Wagub, angka kenaikan selama 24 hari menjelang dan usai Lebaran menunjukkan kenaikan yang rendah, begitu pula dengan penanganan mudik dan kepulangan mantan pekerja migran ke NTB dapat dikendalikan oleh Satgas Covid-19 NTB bersama Forkopimda dan Bupati/Walikota.(Sid)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here