Pemulihan Wisata dengan ‘’Tiga M’’

Sastro A
Sastro A.

Oleh : Sastro A |

KENYATAAN empiris, pariwisata menjadi lumbung terbesar Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Lombok Utara (KLU). Bersama pertanian dan UMKM, sektor pariwisata mestinya menjadi instrumen utama yang harus disiapkan pemerintah untuk memulihkan situasi ekonomi yang terpuruk hebat setelah terdampak badai virus Corona.

Fakta kita rasakan bersama bahwa semenjak kala pandemi membuat tiap orang kembali ke kebutuhan dasar: makan-minum-kesehatan. Namun, ketika pandemi mulai terkendali, orang kembali berburu aktivitas hiburan (leisure) seperti berwisata dan kuliner. Menjadi momentum Post-Pandemic Rebound. Masa yang jangan sampai berlalu begitu saja.

Kebanyakan orang memelototi akan berwisata kemana, sehingga obyek-obyek destinasi pariwisata perlu menyiapkan diri. Bahkan masa ini harus menjadi momen bagi instansi pemerintahan yang mengurusi pariwisata bersama stakeholders terkait bangkit menyingsingkan lengan baju membenahi pelbagai hal yang mesti dimiliki obyek wisata.

Diperlukan sejumlah strategi guna menyongsong pemulihan ekonomi dan pariwisata seiring dengan melandainya kasus Covid-19 yang diiringi optimisme vaksinasi sukses dilakukan.

Adapun sejumlah strategi yang perlu disiapkan menyongsong pemulihan pariwisata dengan menerapkan tiga strategi (Triple Track Strategy), meliputi melek digital, melek inovasi dan kreasi, serta melek sehat, atau dikenal langkah ‘’Tiga M’’.

Pertama, melek digital. Memacu pariwisata untuk menarik orang melek mendatangi obyek-obyek wisata dengan akses yang mudah. Semisal penyelenggaraan event beralih dari pertunjukan langsung menjadi virtual maupun hybrid (online-offline) hingga penyediaan angkutan pariwisata gratis yang bisa dipesan secara daring setiap saat oleh wisatawan. Kemudian menerapkan skrining pengunjung dengan aplikasi PeduliLindungi, termasuk untuk destinasi alam yang notabene berlokasi di desa-desa. Kuncinya, harus tetap mengedepankan aspek digital guna melindungi semua pihak sehingga dapat berlangsung normal.

Kedua, melek inovasi dan kreasi. Instansi pariwisata di daerah dan pelaku wisata berkolaborasi guna berinovasi dan berkreasi tanpa henti atau secara kontinyu dan berkelanjutan berupaya maksimal meningkatkan kualitas layanan kepada para wisatawan. Misalnya menyiapkan layanan angkutan wisata gratis ke sejumlah destinasi wisata terutama di destinasi unggulan.

Event-event baru perlu digalang dengan pelibatan multi pihak maupun kolaborasi dengan banyak hal, seperti sepeda hingga selancar maupun berbagai skema outdoor tourism yang kini diburu wisatawan karena dinilai lebih aman dan sehat. Apalagi beberapa hari kedepan NTB menjadi tuan rumah ajang bergengsi MotoGP di Sirkuit Mandalika Lombok Tengah.

Ketiga, melek sehat. Bukan sekadar patuh disiplin protokol kesehatan semata, namun mesti melengkapi diri dengan standar festival dan pengelolaan destinasi berorientasi kesehatan. Kontinyu meningkatkan kualitas layanan berbasis CHSE: kebersihan (cleanliness), kesehatan (health), keamanan (safety), serta ramah ekologi (environment).

Kini, berwisata bukan saja identik dengan soal bersenang-senang. Tapi di era pandemi dan seusai vaksinasi, berwisata tetap harus berorientasi kesehatan, dalam arti wisata yang bisa memperbaiki kesehatan fisik dan mental.

Lombok Utara perlu melakukan sertifikasi prokes Covid-19 untuk destinasi wisata, hotel, homestay, cafe serta restoran hingga warung-warung masyarakat. Kendatipun kasus Covid-19 telah menurun, namun tetap perlu ikhtiar memperkuat testing dan tracing disamping vaksinasi.

Keunggulan Lombok Utara dibandingkan daerah lain adalah capaian vaksinasi dosis satu dan dosis dua mencapai 80 persen lebih dan sukses menempati posisi nomor dua di NTB. Optimisme yang bisa mendorong geliat kepariwisataan di Gumi Tioq Tata Tunaq—saat ini dan masa-masa mendatang. Sebuah keunggulan dikomparasikan dengan mayoritas daerah destinasi alam lain di NTB sehingga berkunjung ke Lombok Utara lebih aman dan nyaman.

Tidak hanya itu, keberadaan Gunung Rinjani sebagai Taman Bumi (Geopark) dunia akan dapat menjamin lingkungan yang sehat bagi wisatawan, pintu masuk perlu difungsikan memperkuat outdoor tourism, agro tourism, air terjun dan hal-hal sejenis lainnya.

Tungkusan torehan sederhana ini penulis sounding ke ruang publik untuk mendapatkan deskripsi terkait strategi dan program aksi konkret untuk pemulihan pasca pandemi Covid-19, baik jangka pendek maupun pemulihan dalam linimasa jangka panjang.

Lalu, menopang aksi-aksi nyata kebangkitan pariwisata di Lombok Utara, pemerintah daerah perlu mengundang stakeholders duduk bersama berbagi kiat dan sharing informasi terkait langkah-langkah strategis mendorong percepatan pemulihan ekonomi pariwisata dan ekonomi kreatif.

Selain itu, Lombok Utara harus menyadari betapa pentingnya kesadaran perubahan iklim, memahami isu perubahan iklim dan dampak yang dihasilkannya. Dengan kesadaran ini, Lombok Utara akan berada dalam posisi yang sama dengan kota lain di Indonesia dan Asia Tenggara dalam konteks mitigasi dan adaptasi perubahan iklim.

Status Gunung Rinjani sebagai geopark dunia ditambah adanya kesadaran pentingnya perubahan iklim dalam jangka panjang dapat memperkuat posisi Lombok Utara dalam peta destinasi di tanah air. Pasalnya urusan CHSE pasca vaksinasi bukan sekadar menaati protokol kesehatan, tetapi mampu memberikan nilai lebih dengan bersihnya udara, pesona alam, maupun kekayaan budaya.

Selanjutnya perlu memacu outdoor tourism yang akan dapat semakin memperkuat aspek CHSE. Outdoor tourism menjadi pilihan bagi pariwisata sehat. Lombok Utara juga punya potensi outdoor tourism yang luar biasa. Pengelola destinasi perlu terus menawarkan menginap di alam terbuka dengan konsep glamping. Pengelola harus pula menyiapkan diri.

Secara teknis operator tur harus promosi paket outdoor tourism yang menyehatkan, seperti terapi tradisional, akitivitas di taman nasional, konsumsi makanan sehat, menawarkan aktivitas pilates serta akupuntur di sekitar belantara hutan ataupun pantai.

Simpulannya, pengembangan pariwisata ke depan tetap harus berorientasi pada masyarakat lokal. Pelaku dan tenaga kerjanya orang lokal, serta berbasis atraksi seni budaya lokal. Intinya outdoor tourism bisa dipadukan dengan seni budaya lokal.(*)

Penulis adalah Pengurus JMSI Provinsi NTB.

Leave a Reply

Your email address will not be published.