Wagub NTB Bilang Penanganan dan Pencegahan TPPO Harus Melibatkan Seluruh Pihak

Wagub NTB
Wagub NTB, Hj Sitti Rohmi Djalillah saat memberikan sambutan pada acara Pelatihan Pencegahan dan Penanganan Tindah Pidana Perdagangan Orang (TPPO) dan Sosialisasi Bahaya Perkawinan Anak, di Universitas Muhammadiyah Mataram.

MATARAM, LOMBOKTODAY.CO.ID – Wakil Gubernur (Wagub) NTB, Hj Sitti Rohmi Djalillah mengatakan bahwa Pencegahan dan Penanganan Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) harus melibatkan seluruh pihak, mengingat masalah tersebut bukan masalah kecil, dan butuh penanganan yang komprehensif.

”Tidak mungkin pemerintah saja yang akan berjalan di sini, karena sampai sejauhmana sih kemampuan pemerintah. Kalau untuk regulasi iya, pemerintah akan keluarkan regulasi, namun untuk eksekusi butuh keterlibatan berbagai pihak,” kata Wagub NTB, Hj Sitti Rohmi Djalillah saat memberikan sambutan pada acara Pelatihan Pencegahan dan Penanganan Tindah Pidana Perdagangan Orang (TPPO) dan Sosialisasi Bahaya Perkawinan Anak, di Universitas Muhammadiyah Mataram, yang berlangsung dari 17-18 Mei 2022.

Ummi Rohmi, demikian Wagub NTB ini biasa disapa menjelaskan, pentingnya untuk terus meningkatkan edukasi melalui berbagai kegiatan yang sudah ada di masyarakat, salah satunya melalui Posyandu Keluarga. ”Di NTB kita intervensi Posyandu-nya, sehingga di NTB Posyandu-nya tidak lagi menjadi Posyandu KIA, atau Posyandu yang hanya melayani bayi dan ibu hamil, tetapi sudah menjadi Posyandu yakni terdapat Posyandu KIA, Posbindu yang melayani usia produktif, Posyandu remaja dan Posyandu lansia, sehingga banyak hal-hal krusial yang bisa kita bidik melalui Posyandu,” jelasnya.

Melalui Posyandu Keluarga, lanjut Ummi Rohmi, berbagai permasalahan dapat diatasi, di antaranya yaitu stunting, kematian bayi, kematian ibu hamil, perkawinan anak, perdagangan orang, masalah literasi, pendidikan, lingkungan, kebencanaan dan lain sebagainya. ”Di NTB, Alhamdulillah sebanyak 7.600 lebih Posyandu di NTB sudah bisa kita jadikan pusat edukasi berbasis dusun,” ucapnya.

Sementara itu, Rektor Universitas Muhamadiyah Mataram (UMMAT), H Arsyad And Gani mengatakan bahwa generasi muda atau pun pelajar harus dapat mengetahui dampak dan bahaya dari perdagangan manusia dan dampak negatif yang diakibatkan dari perdagangan manusia. ”Ini menjadi tanggung jawab bersama, seluruh masyarakat NTB,” katanya.

Selain itu, Arsyad Gani juga menjelaskan bahwa permasalahan perkawinan anak menjadi masalah serius dan harus diperhatikan oleh generasi muda. Dampak yang sering kali terjadi yaitu akan melahirkan anak yang tidak sehat, anak yang tidak normal, anak stunting dan lain sebagainya. ”Banyaknya anak-anak yang menikah di usia belum dewasa, sehingga melahirkan anak-anak yang berdampak, inilah menjadi PR (pekerjaan rumah) besar Pemerintah dan kita bersama,” ujarnya.(Sid)

Leave a Reply

Your email address will not be published.