Setelah Dinobatkan sebagai Destinasi Wisata Halal Terbaik Dunia, Lalu Apa?

Oleh: Nuraeda |

(Dosen Tetap Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UIN Mataram)

RASANYA tidak ada yang tidak tahu bahwa Indonesia adalah negara dengan jumlah masyarakat muslim terbesar di dunia. Persentase penduduk Muslim Indonesia tidak kurang dari 88% atau sekitar 12 persen dari populasi dunia. Penduduk muslim Indonesia ini menyebar ke seluruh penjuru nusantara, tidak terkecuali di Provinsi Nusa Tenggara Barat. Persentase penduduk muslim di Provinsi ini sebesar 96,78 persen (https://ntb.bps.go.id/statictable/2017/11/15/189/persentase-penduduk-menurut-kabupaten-kota-dan-agama-yang-dianut-di-provinsi-nusa-tenggara-barat-2016.html).

Jumlah yang begitu besar ini menjadi penguat realita Lombok – salah satu pulau di NTB – sebagai pulau seribu masjid. Populasi penduduk muslim NTB ini juga menjadi salah satu dasar Lombok menempati posisi teratas sebagai destinasi wisata terbaik di Indonesia dan dunia. Sebagaimana dilansir di berbagai media bahwa Indonesia telah dinobatkan sebagai destinasi wisata halal terbaik dunia standar Global Muslim Travel Index (GMTI) 2019 oleh Lembaga Pemeringkat Mastercard-Crescent Rating.

Penobatan ini adalah sebuah kepercayaan lembaga dunia yang harus kita jaga sehingga pada saat yang sama penobatan ini menjadi tantangan bagi kita semua warga NTB khususnya dan Indonesia pada umumnya untuk memenuhi kriteria destinasi wisata halal terbaik dunia. Penobatan ini bukanlah pemberian cuma-cuma atau hasil pengundian layaknya arisan, namun penobatan ini adalah suatu prestasi yang harus kita sambut dengan kesiapan yang mantap dalam segala hal.

Jika kita menilik beberapa indikator standar yang disusun oleh Crescent Rating tentang Global Muslim Travel Index (GMTI), kita akan menemukan beragam indikator yang kemudian bisa menjadi acuan kita dalam menyikapi penobatan Lombok-NTB sebagai destinasi wisata halal terbaik dunia. Pada saat yang sama, semua indikator ini harus dihadapkan dengan kondisi realita yang terjadi di Lombok-NTB. Indikator standar wisata halal dunia yang dimaksud adalah (1) destinasi wisata harus ramah keluarga; (2) Keamanan umum bagi wisatawan Muslim; (3) Jumlah kedatangan wisatawan Muslim yang cukup ramai; (4) Pilihan makanan dan jaminan halalnya; (5) Akses ibadah yang mudah dan baik; (6). Fasilitas di bandara yang ramah Muslim; (7) Opsi akomodasi yang memadai; (8) Kemudahan komunikasi; (9) Jangkauan dan kesadaran kebutuhan wisatawan Muslim; (10) Konektivitas transportasi udara; (11) Persyaratan visa. Upaya yang komprehensif untuk memenuhi 11 indikator tersebut, perlu dibangun dengan sinergi semua pihak baik masyarakat maupun pemerintah.

Konkretnya, beberapa hal berikut perlu diupayakan sebagai bentuk penyikapan kita terhadap penobatan Lombok-NTB sebagai destinasi wisata halal terbaik dunia. Pertama, penyediaan destinasi wisata yang bisa dimasuki oleh seluruh anggota keluarga, ayah-ibu dan anak. Dalam hal ini perlu adanya lokasi wisata yang responsif terhadap keluarga, artinya lokasi tersebut layak dikunjungi oleh anggota keluarga dalam berbagai tingkatan usia. Kedua, penciptaan lokasi wisata yang aman dan nyaman dikunjungi wisatawan. Keamanan menjadi kata kunci untuk kemajuan pariwisata. Perlu upaya lebih serius lagi dalam masalah ini sebab hampir tiap hari kita disuguhkan berita-berita perampokan, pencurian, pemerasan, dan tindakan-tindakan anarkis lainnya terhadap wisatawan. Ketiga untuk memudahkan komunikasi wisatawan dengan masyarakat perlu dilakukan penyediaan jasa translator bahasa asing terutama bahawa Arab untuk mengakomodir wisatawan yang berasal dari Timur Tengah, serta bahasa lainnya dari Asia, Eropa dll. Keempat bagian penting dan tak terpisahkan dari wisata halal ini adalah para pemandu wisata yang harus mampu menyesuaikan diri dengan tradisi para wisatawan Muslim. Misalnya saja dalam hal menjaga adab berkomuniasi, mengenakan pakaian yang sopan sesuai standar Muslim, dan respon terhadap datangnya waktu beribadah tepat waktu.

Alasan mendasar pentingnya pengelolaan pariwisata halal ini adalah karena sektor pariwisata merupakan sektor ekonomi penting di Indonesia. Sebagaimana disinggung sebelumnya bahwa Indonesia memiliki bonus demografi dan destinasi yang sangat mendukung untuk mengangkat pariwisata halal. Oleh karena itu, sektor pariwisata ini bisa menjadi andalan pendulang devisa negara. Bagi masyarakat setempat, sektor pariwisata halal ini memunculkan aktivitas-aktivitas ekonomi dan bisnis yang semakin berkembang sesuai dengan kebutuhan tempat pariwisata pada umumnya. Artinya, ini adalah peluang besar bagi masyarakat untuk mengembangkan tradisi berwirausaha semisal cenderamata, kerajinan, kuliner, pakaian, dan lain-lain yang intinya dapat menumbuhkan UMKM. Dengan demikian, prospek pertumbuhan ekonomi nasional menjadi begitu terbuka lebar.

Di NTB sendiri, perkembangan pariwisata begitu pesat yang ditunjukkan oleh semakin meningkatnya jumlah wisatawan sejak tahun 2014 lalu dimana jumlah wisatawan yang datang ke NTB sebanyak 1 juta, pada tahun 2015 sebanyak 2 juta, pada tahun 2016 mencapai angka 3 juta, sedangkan pada tahun 2017 menembus angka 3,5 juta. Angka membuat wisata halal mulai gencar direalisasikan oleh pemerintah daerah. Hal ini semakin mempertegas bahwa Lombok-NTB memang memiliki potensi yang sangat besar untuk pariwisata halal. Kondisi inilah yang harus disikapi oleh masyarakat dan pemerintah daerah setempat sehingga potensi sektor pariwisata halal benar-benar dimanfaatkan dengan sebaik mungkin.

Pada bagian akhir opini ini, penulis ingin menekankan bahwa penobatan Lombok-NTB sebagai destinasi wisata halal terbaik dunia harus disambut positif oleh semua pihak. Peran kontributif yang mendukung ke arah pengembangan pariwisata halal ini harus diupayakan sesuai kemampuan yang dimiliki setiap pihak. Kita semua (Masyarakat dan Pemerintah) dapat mengambil peran pada berbagai aspek misalnya penyediaan kuliner halal, layanan yang responsif terhadap tradisi-tradisi wisatawan muslim, penyediaan pedomana penyelenggaraan pariwisata halal, pengembangan SDM yang terkait dengan pariwisata halal, produk hukum yang menjamin keamanan dan kenyamanan wisatawan muslim, penyediaan infrastruktur, hotel, dan penginapan syariah, dan penyediaan kebutuhan-kebutuhan wisatawan muslim yang selama ini masih belum terpenuhi.(*)

Kirim Komentar

Leave a Reply