Nasi Ujung Petemon

Inilah warung bu Aya menyajikan Nasi Ujung Petemon.

Oleh: Drs Cukup Wibowo, MM.Pd |

NASEHAT untuk tidak berkumpul mengikuti antrian, seperti yang jadi imbauan pemerintah di tengah wabah Covid-19, rasanya memang tak mudah diikuti oleh masyarakat bila itu menyangkut nasi campur buatan bu Sukara, yang akrab disapa bu Aya.

Murah dan enak adalah ciri yang membuat masakan ibu beranak tiga ini dikenal lama oleh para pelanggannya. Dengan keberagaman lauk pauknya, bu Aya menyesuaikan apa yang menjadi permintaan pembeli dengan harga yang diinginkannya. Bahkan dengan harga lima ribu pun pembeli sudah bias merasakan enak masakan bu Aya.

Seperti halnya warung tradisional lainnya yang ada di perkampungan Mataram, warung bu Aya yang oleh pelanggannya dinamakan Warung Nasi Ujung Petemon, sangat khas rasanya. ‘’Bumbunya sangat merase,’’ aku pelanggannya.

Tak hanya enak dan murah pada makanannya, tapi keramahannya dalam melayani para pembelinya itulah yang membuat istri dari pak Mustakim ini bisa bertahan lama dalam berjualan. ‘’Sudah lebih dari dua puluh tahun saya berjualan meneruskan usaha orangtua. Saat masih gadis saya sudah membantu inaq berjualan nasi,’’ akunya.

Dikaruniai 2 putra, Sukardi dan Badrun Taman serta 1 putri bernama Munawaroh, yang masih bersekolah semua, bu Aya bisa dikatakan sebagai legenda hidup di kawasan Petemon. Tak jauh dari tempat jualannya, terdapat tempat yang menjadi kunjungan masyarakat untuk berolahraga yang dikenal sebagai Ruang Terbuka Hijau Pagutan. Sebuah kawasan hijau dengan hawa segarnya yang sangat cocok untuk aktivitas olahraga.

Bila Anda belum pernah ke RTH Pagutan dan mencicipi enak nasi bu Aya, saatnya untuk mencoba. Tak sulit untuk menemukannya, di pertigaan Petemon jalan lingkar selatan, sekitar 25 meter arah timur akan terlihat antrian orang. Selamat mencoba (*).

Penulis adalah Widyaiswara Ahli Madya di BPSDMD Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB).

Kirim Komentar

Leave a Reply