Tiga Bekal Pendukung ‘’Support Sistem’’ Memaksimalkan Bulan Suci Ramadhan

L.M. ADE ILHAM BAKRIE
L.M. ADE ILHAM BAKRIE, QH., S.S.

Oleh: L.M. ADE ILHAM BAKRIE, QH., S.S. |

BULAN Suci Ramadhan dengan segala sisi kemuliaan di dalamnya memberikan daya tarik tersendiri bagi umat Islam. Betapa tidak, dengan hadirnya bulan Ramadhan, berbagai kemuliaan yang tidak didapatkan di bulan lain Allah SWT curahkan kepada umat Islam dengan eskalasi/perhitungan yang tak terhingga.

Indikator mudahnya adalah bahwa pola hidup muslim berubah secara signifikan dari riuh rutinitas dunia yang profan menjadi pelbagai amaliah ritual agama yang sakral yang dapat kita saksikan di mana-mana.

Hal itu tentunya bersifat kausatif, di mana hadirnya Ramadhan dengan suguhan nuansa agamisnya menjadi momen yang tepat bagi sebagian muslim untuk mengekspresikan ghirah/semagat keislamannya, bahkan bagi sebagian yang lain justru menjadi break point (titik balik) dari kehidupan suramnya menuju kehidupan yang subur dengan nilai keislaman.

Berangkat dari itu semua, tentunya semua muslim tidak ingin berlalu dengan Ramadhan kecuali setelah mereka memaksimalkanya untuk mendapatkan pundi-pundi pahala balasan dari Allah SWT.

Apatah lagi setelah Allah—melalui hadits qudsinya—dengan shorih/jelas mendeklerasikan bahwa ganjaran pahala puasa akan diberikan dengan balasan yang tak terhingga, uncountable reward (balasan yang tak dapat terhitung), balasan yang tak dapat disebutkan nominalnya berapa, balasan yang tak terbayang indahnya bagaimana, tak lain itu karena balasannya Allah SWT sendiri yang menjaminnnya.

Pastinya sudah banyak sekali literature yang memaparkan penjelasan para alim ulama, para cendekiawan muslim tentang bagaimana seyogyanya kita semua mempersiapkan diri untuk berhadapan dengan bulan mulia ini, mulai dari Imam Nawawi dalam Minhaju Ath—Thoolibin, Imam Abu Sujak dalam Matannya, Imam Taqiuddin dalam Kifayatul Akhyar dan berbagai kitab tulisan para cendekiawan muslim lainnya.

Singkatnya secara kompulsif, menurut mereka paling tidak ada tiga hal paling mendasar yang harus dipersiapkan oleh setiap pribadi muslim terhadap hadirnya Ramadhan—yang kemudian mereka sebut sebagai ‘’Isti’daadu An-Nafs’’ yakni; Pertama, kesiapan Fisik Materialis Jasmaniyah.

Kesiapan secara fisik adalah penunjang utama seseorang untuk dapat maksimal dalam beribadah. Kesiapan secara fisik ini bersifat mendasar dalam setiap ibadah, bahkan Isti’daadu jims ini menjadi salah satu barometer syarat wajib ibadahnya seorang mukallafiin ‘’Syartun min syuruuti wujuub lil mukallafiin’’.

Seseorang yang tidak memiliki kesiapan secara jasmani atau dalam kondisi sakit mendapatkan hak rukhsah dari agama, Allah memberikan mereka dispensasi kewajiban ibadah, sebuah kemudahan agama bagi orang yang sakit untuk tetap dapat menjalanan agamanya dengan baik.

Tentunya kemudahan yang didapatkan juga harus berdasarkan kriteria dan standar yang telah ditetapkan oleh para ulama, baik itu mendapatkan keringanan isqat, keringanan tarkhis, keringanan tangkis, keringanan ibdal, keringan ta’khir, keringan taqdim, ataupun keringan taghyir. Hal itu bisa diketahui tidak lain tentunya dengan mempelajari ilmu agama secara mendalam.

Kedua, kesiapan Mental Spiritual Ruhaniyah. Kesiapan mental ruhaniyah diartikan sebagai mempersiakan kondisi jiwa yang sehat, ikhlas, dan mukhlas dari sifat sifat hati yang kotor (seperti hasad/iri, takabbur/sombong, dan riya’-sum’ah/rasa ingin dipuji oleh manusia).

Kesiapan hati seperti ini juga teramat penting untuk diperhatikan dan dipersiapkan, karena kebersihan hati menjadi cermin yang merefleksikan perbuatan-perbuatan terpuji oleh anggota badan. Kesiapan rohani dalam ibadah bahkan menjadi klaster paling penting untuk menentukan apakah sebuah amal kebaikan dapat diterima atau tidak oleh Allah SWT.

Amal kebaikan yang dilakuan dengan kesiapan ruhani (keikhlasan) akan tergolong sebagai amal yang maqbul/diterima, sebaliknya amal kebaikan yang dikerjakan tanpa kesiapan hati (keikhlasan) maka akan terkategori sebagai amal mardud/tertolak. Tentunya kita semua tidak mengharapkan amal kebaikan yang telah kita lakukan akan menjadi sia-sia hanya karena tertolak sebab ketidakikhlasan rohani.

Ketiga, kesiapan Pengetahuan Ilmiah Amaliyah. Kesiapan ilmu adalah penunjang paling penting dalam setiap ibadah. Kesiapan pengetahuan terhadap suatu ibadah akan memudahkan pengamalan amal ibadah itu sendiri bahkan menjadi faktor penguatan motivasi melakukan ibadah.

Dengan kesiapan pengetahuan, baik pengetahuan tentang kaifiyatulibadah (tata cara ibadah) ataupun pengetahuan tentang hatssul ibadah (keutamaan keutamaan mengerjakan ibadah tertentu) akan menjadi sangat penting dalam menjaga semangat ibadah kita, akan menjadi penopang keimanan yang memang selalu fluktuatif naik dan turun setiap waktu di sepanjang hari.

Kesiapan pengetahuan ini tidak dapat hanya dilakukan dengan seorang diri melainkan dengan disiapkan bersama-sama dengan para ahli ilmu, dengan menghadiri majelis-majelis ilmu, bertanya kepada ahli ilmu, ataupun mendengar ceramah-ceramah dari para ahli ilmu yang ditayangkan secarara virtual.

Semua kesiapan itu sangat penting diperhatikan oleh setiap muslim dalam segala amal ibadah yang dilakukannya, terkhusus juga dalam agenda memaksimalkan bulan suci Ramadhan tahun ini. Kesiapan fisik, kesiapan rohani, dan kesiapan ilmu pengetahuan akan sangat membantu dan menentukan kualitas ibadah puasa kita, dan kualitas ibadah puasa yang baik tersebut kemudian akan mengantarkan kita pada fase ketaqwaan yang diharapkan.

Semoga dengan persiapan persiapan tersebut, kita siap secara lahir dan bathin melaksakan dan menkmati pengalaman ibadah puasa hari demi hari hingga memperoleh gelar ‘’Al Muttaqiin/orang orang yang bertaqwa’’ sebagaimana firman Allah:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ كُتِبَ عَلَيۡكُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُونَ

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.(*)

Penulis adalah Mutakharrijin Ma’had Darul Qur’an Wal-Hadist (MDQH) NW Anjani Angkatan 55.

Response (1)

  1. Senang sekali menelaahnya,simple,aktual,dan penuh dg pesan penguatan mental spiritual,berkah ananda Ust.dan harapan saya semoga menjadi pendakwah milik umat bukan milik suatu golongan,sukses dan berkah.

Leave a Reply

Your email address will not be published.