Sembalun Akan Jadi Sentra Benih Kentang

MATARAM, Lomboktoday.co.id—Wilayah Sembalun, Lombok Timur, akan dijadikan sebagai sentra produksi benih Kentang. Karena, Sembalun dikenal sebagai satu-satunya daerah di Indonesia yang bebas dari penyakit Nematoda Sista Kuning (NSK).

‘’Selain dijadikan sebagai sentra produksi Kentang, ke depan Sembalun akan kita jadikan sebagai sentra produksi benih Kentang,’’ kata Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Holtikultura Propinsi NTB, H Abdul Ma’ad kepada Lomboktoday.co.id di ruang kerjanya, Senin (14/1).

Abdul Ma’ad mengakui, wilayah Sembalun memang dikenal sebagai daerah yang sangat potensial untuk Holtikultura. Itu sebabnya, pemerintah daerah bersama masyarakat Sembalun terus bangkit dalam membangun Holtikultura tersebut. Di Sembalun ini, dalam memproduksi Kentang itu sudah berjalan lama, dengan bekerjasama pihak Indofood.

Hanya saja, masalah benih ini masih didatangkan dari luar negeri, yakni dari Australia. Sehingga, harga benih Kentang menjadi mahal. Setidaknya, sekitar 50 persen itu, terdapat diharga benih.

Itu sebabnya, Pemerintah Propinsi NTB membuat aturan yang dituangkan dalam Peraturan Gubernur (Pergub) NTB No.17 tahun 2011 tentang peredaran benih Kentang. Dimana, nantinya keluar masuknya benih Kentang dari dan ke NTB, benar-benar akan diawasi.

‘’Keluar masuknya benih Kentang ini nanti harus di bawah pengawasan kita. Ini bentuk regulasi dalam melindungi benih Kentang. Jadi, pihak Karantina nanti harus benar-benar lebih ketat dalam mengawasi benih Kentang itu,’’ ungkapnya.

Abdul Ma’ad menjelaskan, luas lahan yang ditanami Kentang di Sembalun saat ini seluas 260 hektar. Sementara potensi lahan yang ada mencapai 500 hektar. Sementara untuk produksi Kentang mencapai 4.500-5.000 ton per tahun di atas areal 225 hektar.

Selain Kentang, jelas Abdul Ma’ad, di Sembalun juga ada Bawang Putih, yang mendapatkan dukungan dari Holtikultura. Luas lahannya mencapai 456 hektar, dengan hasil produksi mencapai 4.510-6.475 ton (data 2010). Tak hanya itu, ada pula Bawang Merah. Pada 2010 lalu, hasil produksi Bawang Merah mencapai 104.324 ton, dengan luas panen sekitar 10.159 hektar.

Sedangkan pada 2011, produksi Bawang Merah mencapai sekitar 78.299 ton, dengan luas panen sekitar 9.988 hektar. Angka ini mengalami penurunan bila dibandingkan tahun sebelumnya.
Terkecuali Bawang Putih, mengalami kenaikan dari tahun sebelumnya. Yakni produksi mencapai 6.922 ton, dengan luas panen sekitar 632 hektar.

‘’Kalau Bawang Merah ini, musim-musiman. Kalau cuacanya buruk, ya tidak ditanam. Tapi yang jelas, pada tahun 2012, Bawang Merah itu mengalami surplus, kalau kita lihat dari hasil produksi dan harganya yang turun drastis. Dan Bawa Merah yang dihasilkan di Sembalun ini, kebanyakan dibawa ke Kalimantan, NTT, dan Pulau Jawa,’’ ujarnya.(ar)

Kirim Komentar

Leave a Reply