Ini 5 Fakta Ritual Mandi Safar untuk Membangkitkan Pariwisata NTB

Ritual Mandi Safar
Suasana Ritual Mandi Safar dilaksanakan pada hari Rebo Bontong yang diselenggarakan oleh masyarakat Gili Meno, Desa Gili Indah, Kecamatan Pemenang, Kabupaten Lombok Utara (KLU), pada Rabu (6/10/2021).

LOMBOK UTARA, LOMBKTODAY.CO.ID – Ritual ‘Mandi Safar’ di kalangan masyarakat Lombok, khususnya warga Gili Meno, dikenal dengan istilah ‘Rebo Bontong’.

Ritual Mandi Safar menjadi salah satu tradisi yang paling ditunggu-tunggu masyarakat Lombok. Terlebih setelah muncul wabah pandemi Covid-19. Berikut ini ada 5 fakta Mandi Safar bagi kebangkitan pariwisata Lombok-Sumbawa, Provinsi NTB di Gili Meno, pada Rabu (6/10/2021).

Pertama, Ritual Mandi Safar di kalangan masyarakat Lombok dikenal dengan istilah Rebo Bontong. Dilaksanakan secara rutin dari tahun ke tahun setiap bulan Safar (perhitungan kalender Islam). Aplikasi tradisi Rebo Bontong di Gili Meno, tersaji dalam bentuk perpaduan budaya masyarakat Lombok Utara dan dibalut dalam nuansa Islami. Ritual Rebo Bontong di Gili Meno dikemas sedemikian rupa agar menjadi daya tarik bagi wisatawan.

Kedua, meski dalam masa pandemic Covid-19 tahun ini, tradisi Rebo Bontong di Gili Meno tetap berlangsung walaupun terkesan sederhana. Sederhana tetapi tidak mengubah makna maupun arti dari ritual sert nilai-nilai tradisi yang sudah melekat di kalangan warga Gili Meno. Acara tetap berlangsung khidmat dan diikuti lantunan selakaran dan dzikir. Puncak acara menjadi momentum paling ditunggu-tunggu masyarakat yaitu mandi di laut. Warga yang hadir harus rela diceburkan atau menceburkan diri ke laut.

Tradisi ini menjadi kian menarik karena Wakil Bupati (Wabup) Lombok Utara, Dani Karter Febrianto yang hadir diarak warga lalu diceburkan ke laut. Selain Dani, Kepala Dinas (Kadis) Pariwisata Provinsi NTB, H Yusron Hadi jug ikut serta dalam ritual tradisi Rebo Bontong di Gili Meno tersebut. Tak ayal lagi, tradisi tahunan ini mengundang decak kagum dan senyum wisatawan nusantara yang hadir di destinasi unggulan NTB ini.

Ketiga, Yusron Hadi menilai tradisi Rebo Bontong merupakan aset budaya masyarakat Lombok. Aset budaya masyarakat Lombok ini jika dikemas menarik, bisa menjadi atraksi unik yang layak jual selama masa pemulihan pariwisata NTB. ‘’Jelas ini aset berharga. Jika dikemas dalam balutan tradisi yang unik dan menarik, maka tradisi ini memiliki nilai jual yang tinggi untuk pariwisata NTB. Atraksi ini layak jual dan bernilai ekonomi tinggi,’’ kata Yusron Hadi.

Keempat, tradisi Rebo Bontong menjadi kebangkitan pariwisata NTB, khususnya di kawasan tiga Gili (Gili Meno, Gili Air dan Gili Trawangan). Makna ritual Rebo Bontong adalah pembersihan diri atau tolak balaq (melukat dalam istilah Suku Sasak, Red). Melukat di tengah kondisi pandemi Covid-19 ini, tidak saja bermakna membersihkan jiwa dan diri peserta ritual Rebo Bontong. Lebih dari itu, bagi Yusron Hadi juga bermakna membersihkan destinasi dari wabah Covid-19.

Membersihkan diri selaras dengan semangat membangun kembali destinasi yang sehat dan aman. Setelah bersih dan aman, kawasan tiga Gili di Lombok Utara siap dikunjungi wisatawan. ‘’Inilah saatnya. Pelaksanaan tradisi Mandi Safar, menjadi awal kebangkitan pariwisata NTB. Membangun semangat pemulihan kebangkitan pariwisata NTB,’’ katanya penuh harap.

Kelima, pelaksanaan tradisi Rebo Bontong juga menjadi pertanda bahwa warga Desa Gili Indah, Kecamatan Pemenang, Kabupaten  bersiap menyambut event World Superbike (WSBK) pada 19-21 November 2021 mendatang dan event MotoGP pada Maret 2022 tahun depan, di Sirkuit Mandalika, Kabupaten Lombok Tengah (Loteng).

‘’Saya yakin tradisi Rebo Bontong menjadi magnet bagi Gili Indah. Daya tarik Gili akan menjadi perhatian penonton dan wisatawan saat WSBK dan MotoGP dihelat. Kawasan tiga Gili ini pasti dikunjungi wisatawan saat perhelatan event MotoGP dan WSBK. Pesan saya bersiaplah dan jaga Gili tetap aman dan sehat,’’ ungkap Yusron Hadi.(Sid)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here