Meily Zuraida, Merawat Gigi dari Desa ke Desa

MATARAM,Lomboktoday.co.id – Terpanggil karena melihat minimnya anggaran kesehatan yang dialokasikan pemerintah daerah, dan masih rendahnya kesadaran masyarakat akan pentingnya kesehatan gigi, drg.Meily Zuraida (28), mulai membaktikan dirinya melayani perawatan kesehatan gigi masyarakat secara gratis.

drg.Meily Zuraida

drg.Meily Zuraida

Dengan dana pribadi yang ia miliki, bakti sosial yang dilakukan Meily dari desa ke desa, kini sudah menyasar sejumlah desa di pulau Lombok.

Ditemui Jumat (29/11), drg Meily Zuraida memaparkan, pameo atau anggapan yang berkembang di masyarakat saat ini bahwa memeriksa kesehatan gigi ke dokter itu biayanya mahal. Selain itu, dokter gigi di fasilitas kesehatan masyarakat seperti Puskesmas masih sedikit, dan peralatan juga dapat dikatakan minim.

Fenomena yang terjadi, pasien akhirnya lebih banyak yang mendiamkan saja, walaupun menderita sakit gigi. Kalaupun diobati, juga menggunakan obat-obatan tradisional, yang belum tentu teruji secara klinis kasiatnya.

“Padahal kalau mereka mengetahui, melakukan pengobatan, atau mencabut gigi sendiri, apalagi gigi atas, resikonya sangat berbahaya, karena ada beberapa gigi yang berhubungan langsung dengan akar saraf,” kata Meily.

Menurut dokter gigi lulusan Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Hasanudin Makasar tahun 2012 ini, urusan mencabut gigi itu tidak segampang yang dipikirkan orang, dicabut paksa, sakit sedikit dan selesai, tanpa berakibat tertentu.

“Pencabutan gigi baru bisa dilakukan, setelah ada data-data medis akurat, dimana itu bisa dilihat dari hasil foto rontgen,” jelas dokter gigi cantik ini.

Niat tulus membantu masyarakat, dan ingin mengamalkan ilmu yang dimiliki, akhirnya memotivasi Meily untuk menggelar program bakti sosial, melakukan edukasi (pendidikan) dini kesehatan gigi dan mulut, serta pencabutan gigi secara gratis kepada pasien yang membutuhkan.

Dengan mobil jenis Kijang Inova miliknya yang dimodifikasi sebagai kendaraan medis lapangan, Meily pun mulai mengunjungi masyarakat dari Desa ke Desa untuk pelayanan kesehatan gigi gratis.

Hingga saat ini tercatat sudah ada belasan desa di pulau Lombok yang telah dikunjungi sebagai lokasi bakti sosial, seperti Desa Kebun Jeruk, dan Desa Pengenjek di Kabupaten Lombok Timur, Desa Lajut (Loteng), Desa Sanggar Sari (KLU), Desa Rumak (Lobar), Kelurahan Gomong, dan Kelurahan Kekalik (Kota Mataram), dan dalam waktu dekat akan menggelar kegiatan sama di Kelurahan Dasan Agung, Kota Mataram.

“Waktu kuliah di Makassar saya sering berbuat untuk masyarakat di sana, dan setelah kambali ke daerah asal, mengapa saya tidak berbuat hal yang sama untuk masyarakat di Lombok?” ujar anak ketiga dari empat bersaudara, putri pasangan Muhammad Alwi dan Baiq Ilmy yang asli warga Rumbuk, Lombok Timur ini.

Kendaraan yang dimodifikasi menjadi mobil operasional medis oleh drg. Meily Zuraida. (Sigit Sl/Lomboktoday.co.id)

Kendaraan yang dimodifikasi menjadi mobil operasional medis oleh drg. Meily Zuraida. (Sigit Sl/Lomboktoday.co.id)

Selain terjun langsung ke lapangan, Meily ternyata juga mempunyai program E-dentist, yaitu konsultasi gratis tentang kesehatan gigi dan mulut melalui SMS (Short Messages Service).

“Masyarakat biasa (kurang mampu,red) terkadang takut pergi konsultasi ke dokter gigi, dengan alasan biaya yang mahal. Untuk itu, cukup kirim SMS ke nomor 087864455586, semua keluhan tentang kesehatan gigi dan mulut itu akan saya jawab tuntas,” janjinya.

Setiap kali turun lapangan untuk program sosialnya, Meily bisa menangani hingga 80 orang pasien di satu lokasi.

“Tidak tentu jumlahnya. Tapi kalau saya membawa dokter pendamping, rata-rata sekitar 80-an pasien yang bisa kita tangani,” jelasnya.

Pengobatan biasanya dilakukan setelah digelar penyuluhan, yang diikuti oleh ratusan warga. Namun tidak semua yang hadir itu memiliki masalah kesehatan gigi, sehingga yang berobat juga tidak semua.

Meily mengaku semua kegiatan itu masih menggunakan anggaran pribadinya, dan belum ada pihak yang secara langsung berkontribusi menyandang dana.

“Banyak yang menawari saya untuk kerjasama, seperti KNPI NTB, tapi saya harus membuat proposal, dan itu belum sempat saya kerjakan.  Kedepan mungkin akan saya tindaklanjuti, sesuai dengan kebutuhan masyarakat yang semakin banyak,” tuturnya.

Awalnya, dalam menjalankan baksos Meily masih menggunakan sistem “jemput bola”, bersurat ke Kepala Desa atau Kepala Lingkungan di lokasi kegiatan, menawarkan program Baksos-nya.

“Namun setelah banyak masyarakat yang mengetahui dan mendengar, sekarang justru masyarakat sendiri yang meminta saya untuk datang ke desanya melakukan Baksos. Ini tentu saja menggembirakan, karena kesadaran masyarakat terhadap kesehatan gigi dan mulut sudah mulai terbangun,” tutur Meily seraya menyampaikan kegiatan serupa juga akan dilakukan di pulau Sumbawa.

Ada cita-cita dan keinginan Meily ke depan, yaitu membangun Komunitas Gigi Sehat NTB, melalui desa-desa binaan di berbagai daerah NTB.

Desa binaan ini nantinya diharapkan dapat menjadi daerah percontohan bagi desa-desa lainnya, sehingga kesadaran masyarakat dalam memelihara kesehatan gigi dan mulut bisa terbangun.

“Tapi yang terpenting, kegiatan yang saya lakukan ini bisa memotivasi para dokter gigi lain di NTB agar berbuat hal yang sama. Mengingat anggaran kesehatan di APBN untuk kesehatan hanya 5 persen, dan itu sangat kecil, sehingga dibutuhkan keterlibatan para tenaga medis untuk meluangkan waktu berbuat bagi masyarakat,” pungkasnya.(GT)

Kirim Komentar

Leave a Reply