Ponpes dan UMKM Jadi Sumber Kekuatan Ekonomi Regional di KTI

webinar FESyar
Suasana webinar pemberdayaan usaha syariah (pesantren dan non pesantren) yang digelar Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTB secara virtual, pada Rabu (28/7/2021), sebagai rangkaian dari pelaksanaan Festival Ekonomi Syariah (FESyar) Kawasan Timur Indonesia (KTI) tanggal 27 Juli sampai 3 Agustus 2021.

MATARAM, LOMBOKTODAY.CO.ID – Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi NTB, Heru Saptaji menyampaikan bahwa salah satu sumber kekuatan ekonomi regional, khususnya di Kawasan Timur Indonesia (KTI) ialah Pondok Pesantren (Ponpes) dan UMKM.

Berdasarkan data Kementerian Agama (Kemenag), jumlah Pondok Pesantren yang tersebar di 18 Provinsi Kawasan Timur Indonesia (KTI) mencapai 2.198 Pondok Pesantren. Di Provinsi NTB sendiri, terdapat 684 Pondok Pesantren. Hal ini menunjukkan potensi yang sangat besar apabila dapat mengoptimalkan usaha syariah pesantren sebagai pusat pemberdayaan ekonomi masyarakat.

Di Provinsi NTB, pengembangan ekonomi dan keuangan syariah yang dilakukan oleh Bank Indonesia (BI) Provinsi NTB dilaksanakan dalam berbagai kegiatan seperti capacity building (pelatihan dan webinar), pemberdayaan kemandirian ekonomi pesantren melalui pembentukan Holding Bisnis Pesantren (Hebitren), dan peningkatan kapasitas produksi pesantren dengan pertanian organik.

‘’Di samping itu, BI juga mendorong pengembangan UMKM Syariah, di antaranya melalui pendampingan Anggota IKRA Indonesia, Fasilitasi Sertifikasi Halal, Pemberdayaan Wirausaha Syariah Berbasis Masjid, pengembangan fashion halal melalui kegiatan Moslem Fashion Industry, serta berbagai program scale up lainnya,’’ kata Kepala Perwakilan BI NTB, Heru Saptaji dalam webinar pemberdayaan usaha syariah (pesantren dan non pesantren) yang digelar Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTB secara virtual, pada Rabu (28/7/2021), sebagai rangkaian dari pelaksanaan Festival Ekonomi Syariah (FESyar) Kawasan Timur Indonesia (KTI) tanggal 27 Juli sampai 3 Agustus 2021.

Kegiatan webinar terkait model pemberdayaan usaha syariah tersebut diharapkan dapat mendorong terciptanya business linkage antara pesantren dan UMKM, serta mendorong pengembangan dan akselerasi ekonomi syariah, khususnya di Kawasan Timur Indonesia (KTI).

Webinar kali ini menghadirkan narasumber Yono Haryono dari Departemen Ekonomi dan Keuangan Syariah Bank Indonesia (BI); HM Zaidi Abdad selaku Kepala Kanwil Kementerian Agama Provinsi NTB. Selain itu, juga menghadirkan 3 (tiga) Pondok Pesantren Unggulan Regional se-Kawasan Timur Indonesia yang merupakan finalis lombak Ponpes unggulan FESyar Kawasan Timur Indonesia 2021 sebagai narasumber. Ketiga Pondok Pesantren tersebut adalah Pondok Pesantren Trubus Iman dari Kalimantan Timur, Pondok Pesantren Yatofa dari Provinsi NTB, dan Pondok Pesantren Hidayatullah dari Sulawesi Selatan.

Kehadiran ketiga Pondok Pesantren tersebut untuk berbagi pengalaman dan informasi terkait kegiatan pengembangan ekonomi pesantrennya, dan diharapkan dapat menjadi role model sehingga nantinya dapat dikembangkan dan menjadi inspirasi bagi Pondok Pesantren lainnya dalam pengembangan ekonomi syariah berbasis pesantren pada umumnya.

Dalam acara tersebut diumumkan bahwa Pondok Pesantren Yatofa berhasil meraih juara 2 sebagai Pondok Pesantren Unggulan mewakili Provinsi NTB. Hal tersebut diharapkan dapat memacu Pondok Pesantren lainnya, khususnya di Provinsi NTB untuk mengembangkan kemandirian ekonomi pesantren. Pondok Pesantren tersebut akan diberikan bantuan untuk mengembangkan usaha Pondok Pesantren.

Lebih lanjut, Heru Saptaji menjelaskan, bahwa pelaksanaan kegiatan FESyar Kawasan Timur Indonesia 2021 ini dapat menjadi momentum untuk mewujudkan peningkatan usaha syariah, sehingga mampu memberikan manfaat yang lebih luas baik bagi masyarakat, bangsa dan negara, serta dalam pengembangan ekonomi dan keuangan syariah di Indonesia.(Sid)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here