Meski Tren Kasus Covid-19 Menurun, Presiden Jokowi Ingatkan Jajarannya Tetap Waspada

Rapat Terbatas
Suasana Rapat Terbatas (Ratas) mengenai Evaluasi Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) yang dipimpin Presiden Jokowi, pada Senin sore (15/11/2021).

JAKARTA, LOMBOKTODAY.CO.ID – Presiden RI, Joko Widodo (Jokowi) meminta jajarannya untuk tetap waspada dalam menghadapi pandemi Covid-19, terutama menjelang libur Hari Natal 2021 dan Tahun Baru 2022 (Nataru).

‘’Tadi di Ratas Bapak Presiden Jokowi menyampaikan bahwa memang Alhamdulillah kasus sudah menurun, tapi kita harus ekstra waspada terutama menghadapi Nataru, jangan sampai terjadi lonjakan berikutnya,’’ kata Menteri Kesehatan (Menkes), Budi Gunadi Sadikin dalam keterangan pers, di Kantor Presiden, Jakarta Pusat, usai mengikuti Rapat Terbatas (Ratas) mengenai Evaluasi Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) yang dipimpin Presiden Jokowi, pada Senin sore (15/11/2021).

Meski tren kasus harian menurun secara konsisten, Presiden Jokowi menekankan agar sejumlah daerah harus tetap dimonitor secara ketat untuk menghindari terjadinya lonjakan kasus. ‘’Bapak Presiden Jokowi juga menekankan lima provinsi yang jumlah kasusnya sekarang mulai melandai dan ada beberapa indikasi mulai ada kenaikan (kasus), itu harus dimonitor secara ketat. Jadi, lima-limanya adalah provinsi di Jawa,’’ ujar Menkes.

Terkait pelaksanaan pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas, Presiden Jokowi meminta agar dilakukan surveilans yang ketat terhadap sekolah yang melakukan PTM. ‘’Bapak Presiden Jokowi juga mengarahkan agar sekolah-sekolah yang melakukan pembelajaran tatap muka itu juga dilakukan surveilans yang ketat agar kalau ada indikasi (kasus) kita bisa melakukan tindakan agar tidak menyebar,’’ ungkapnya.

Menkes menambahkan, pihaknya dan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek) akan segera mengambil langkah untuk meningkatkan surveilans di satuan pendidikan. ‘’Saya dengan Pak Nadiem akan segera melakukan konsolidasi, rencananya mudah-mudahan minggu ini kita sudah bisa selesaikan bagaimana kita bisa tetap melakukan program (pembelajaran) tatap muka tapi dengan surveilans yang aktif dan yang lebih proaktif,’’ katanya.

Airlangga: Tidak Ada Provinsi di Level Asesmen 3 dan 4

Tren penurunan kasus konfirmasi harian dan jumlah kasus aktif terus terjadi secara konsisten, baik di wilayah Jawa-Bali maupun luar Jawa-Bali. Kasus aktif di Indonesia per 14 November 2021 adalah sebanyak 9.018 kasus dengan kasus konfirmasi harian sebanyak 339 kasus. Sementara kasus konfirmasi harian 7 Day Moving Average (7DMA) berjumlah 384 kasus.

‘’Kasus konfirmasi harian di luar Jawa-Bali 135 kasus, dengan rata-rata 7 hari (7DMA) adalah 117 kasus, dan tren penurunan konsisten,’’ kata Menteri Koordinator Bidang Perekonomian (Menko Perekonomian), Airlangga Hartarto dalam keterangan pers, di Kantor Presiden, Jakarta Pusat, usai mengikuti Rapat Terbatas (Ratas) mengenai Evaluasi Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) yang dipimpin oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi), pada Senin sore (15/11/2021).

Airlangga menjelaskan, kasus aktif di luar Jawa-Bali per 14 November adalah sebanyak 4.339 kasus atau 0,31 persen dari kasus nasional, sudah turun 98,0 persen dari puncak kasus aktif luar Jawa-Bali per 6 Agustus lalu. Sedangkan tingkat kesembuhan 96,57 persen dan tingkat kematian sebesar 3,12 persen. ‘’Angka reproduction rate (Rt) sudah di bawah 1. Kalimantan 0,98; Sumatera 0,96; Maluku di angka 1; Papua 0,98; Nusa Tenggara 0,98; dan Sulawesi di 0,95,’’ jelasnya.

Airlangga memaparkan bahwa berdasarkan asesmen mingguan situasi Covid-19 sudah tidak ada provinsi di luar Jawa-Bali yang berada di level asesmen 3 dan 4. Sebanyak 25 provinsi berada di level 2 dan 2 provinsi di level asesmen 1. ‘’Dari kabupaten/kota yang di level 4 ini adalah nol. Kemudian untuk di level 3 ada 5 kabupaten/kota, yaitu Tana Tidung, Gayo, Gayo Lues, Sorong, Subulussalam, dan Teluk Bintuni. Kemudian yang untuk di level 2 ada 207 (kabupaten/kota) dan di level 1 sebanyak 174 (kabupaten/kota),’’ paparnya.

Untuk level asesmen situasi pada lima kabupaten/kota penyelenggara World Superbike (WSBK) Mandalika seluruhnya berada pada level asesmen 1. Sedangkan target capaian vaksinasi saat penyelenggaraan World Superbike adalah 70 persen untuk dosis pertama. ‘’Sekarang hanya Lombok Timur yang (cakupan vaksinasi dosis pertama) 68,99 persen, sisanya sudah di 70 persen,’’ katanya.

Airlangga menegaskan bahwa PPKM luar Jawa-Bali periode saat ini akan tetap berlaku hingga 22 November mendatang. ‘’Khusus yang luar Jawa-Bali karena (PPKM) akan berlaku sampai minggu depan. Jadi, statusnya tetap, tidak ada perubahan,’’ tegasnya.

PPKM Jawa-Bali Dilanjutkan, Luhut: 26 Kabupaten/Kota di Level 1 dan 61 Kabupaten/Kota di Level 2

Pemerintah kembali melanjutkan kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) di Jawa-Bali selama dua minggu hingga 29 November 2021 mendatang.

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves), Luhut Binsar Pandjaitan mengungkapkan bahwa terdapat penambahan lima kabupaten/kota di Jawa-Bali yang masuk ke dalam Level 1 dan 10 kabupaten/kota yang masuk dalam Level 2. Penetapan ini akan dituangkan dalam Instruksi Menteri Dalam Negeri (Inmendagri).

‘’Dalam asesmen yang akan berlaku dalam dua minggu ke depan, terdapat penambahan kabupaten/kota yang masuk ke dalam Level 2 sebanyak 10 kabupaten/kota dan Level 1 sebanyak 5 kabupaten/kota. Sehingga jumlah keseluruhan kabupaten/kota yang masuk ke dalam Level 1 menjadi 26 kabupaten/kota, Level 2 menjadi 61 kabupaten/kota, dan Level 3 menjadi 41 kabupaten/kota. Terkait detail keputusan ini akan kembali dituangkan dalam Inmendagri,’’ kata Luhut, dalam keterangan pers yang disampaikan secara tertulis, pada Senin (15/11/2021).

Meski daerah Level 1 dan 2 terus bertambah, Menko Marves tetap mengingatkan pentingnya kehati-hatian bersama dalam menghadapi pandemi Covid-19 mengingat terdapat indikasi peningkatan angka reproduksi efektif (Rt) yang menunjukkan sinyal peningkatan kasus di Jawa-Bali dalam sepekan terakhir ini.

Hal ini juga dapat terlihat dari beberapa kabupaten/kota di Jawa-Bali yang mulai mengalami peningkatan kasus dan perawatan mingguan. Terdapat 29 persen kabupaten/kota yang mengalami peningkatan kasus dibandingkan minggu lalu dan 34 persen kabupaten/kota yang mengalami peningkatan orang yang dirawat dibandingkan minggu lalu.

‘’Kehati-hatian harus dilakukan terutama untuk menghadapi Nataru (Natal dan Tahun Baru). Saat ini indikator Google Mobility yang memantau pergerakan masyarakat di Jawa-Bali menunjukkan kenaikan yang cukup signifikan di atas periode Nataru tahun lalu dan mendekati posisi Periode Idul Fitri pada Mei-Juni 2021,’’ ujarnya.

Selain itu, Luhut juga meminta kepada seluruh masyarakat untuk tetap berhati-hati mengingat masih terdapat 47 persen kabupaten/kota di Jawa-Bali yang suntikan dosis pertama vaksinasi Covid-19 untuk kelompok masyarakat lanjut usia (lansia) masih di bawah 50 persen dan sebanyak 75 persen kabupaten/kota yang suntikan vaksinasi dosis keduanya masih di bawah 50 persen. ‘’Lebih rinci, masih ada 16 kabupaten/kota di Jawa-Bali yang cakupan vaksinasi umum dan lansia dosis pertama yang masih di bawah 50 persen,’’ ucapnya.

Lebih lanjut, Luhut menjelaskan hingga saat ini pemerintah terus menemukan kondisi di lapangan yang menunjukkan berkurangnya kesadaran masyarakat dalam menerapkan protokol kesehatan (prokes). Hal ini tentunya sangat mengkhawatirkan dalam menghadapi potensi kenaikan mobilitas dan kasus konfirmasi Covid-19 di masa Nataru nanti.

‘’Oleh sebab itu, dalam menyambut Nataru yang akan datang sebentar lagi, pemerintah akan berkoordinasi untuk mengetatkan penggunaan aplikasi PeduliLindungi dan protokol kesehatan, utamanya di tempat kerumunan. Selain itu, pemerintah akan terus menggenjot percepatan vaksinasi Covid-19, terutama vaksinasi lansia di wilayah yang tingkat vaksinasi umum dan lansianya masih di bawah 50 persen,’’ tegasnya.

Tak hanya itu, lanjut Luhut, pemerintah juga akan terus memperkuat aktivitas testing dan tracing oleh TNI/Polri, penemuan kasus aktif, serta memasukkan pasien yang terkonfirmasi positif Covid-19 ke karantina terpusat untuk mencegah penyebaran di level keluarga. Pemerintah juga akan melarang perayaan tahun baru yang sifatnya dapat menimbulkan kerumunan masyarakat dalam jumlah yang besar.

Selain itu, pemerintah juga mempersiapkan berbagai skenario untuk mengantisipasi potensi kenaikan kasus akibat Nataru serta dampaknya di segala aspek baik dari sisi kesehatan maupun ekonomi. Luhut menilai, kesuksesan dalam menahan kenaikan kasus Covid-19 pada periode Nataru 2021 akan menentukan keberlanjutan pemulihan ekonomi Indonesia ke depan.

‘’Di kesempatan ini, di tengah angka peningkatan kasus di Eropa dan beberapa negara lain yang terus tinggi, saya kembali mengajak kita semuanya untuk tidak egois dan saling berbesar hati agar kita sama-sama bisa menaati kembali protokol kesehatan yang terus diimbau agar kita tidak kembali mengulang pengalaman buruk pada masa lalu akibat kelalaian kita. Apa yang telah kita perjuangkan bersama selama ini layak untuk terus dijaga dan tidak dilupakan hanya karena kejenuhan dan keegoisan kita semua,’’ ungkapnya.(Sid)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here