CAHAYA LANGIT DI PIKIRAN

ilustrasi cahaya langit.

Oleh: Cukup Wibowo

KEHENINGAN itu indah karena bisa mengantar pada persenyawaan batin antara hamba dan penciptaNya. Itu sebabnya keheningan bisa disebut sebagai momen terbaik bagi siapapun yang mengerti makna penghayatan. Dalam usaha untuk bisa merasakan yang tak terasakan oleh lainnya, maka ikhtiar harus terus dilakukan untuk membuat kepekaan diri terus meningkat hingga mencapai titik utama persekutuan.

Langit bukan cuma ruang anggapan dimana diri harus bersikap takzim dengan wajah dan tangan tengadah mengharap agar segala maksud yang teringinkan terwujudkan, ia juga ruang dimana cahaya bermula. Kegaiban itu nyata karena cahaya adalah wujud nyata tentang itu. Dan oleh kekuatan dan kehendak-Nya, maka cahaya itu bertebaran ke penjuru bumi mencari siapa-siapa yang dikehendaki.

Tak ada alasan untuk membantah bahwa sebuah pertemuan itu memang bermula dari kebersediaan dan kesungguhan. Itikad yang dipadu niat yang kuat adalah gambaran atas syarat itu. Tentu saja begitu. Bagaimana mungkin menggambarkan sebuah perjumpaan bila tak diawali oleh maksud dalam kehendak yang sama? Rindu akan menemukan rindu yang sama dan tidak bertepuk sebelah harapan bila persenyawaan hati telah terjadi.

Namun demikian, pertanyaan akan muncul, bagaimanakah caranya pertemuan hati dalam keheningan itu bisa terjadi? Tentu jawabannya bukanlah sebuah puisi yang berisi syair-syair yang menggambarkan diri dalam siluet persenyawaan. Sebagaimana peribadahan yang dilakukan oleh siapapun dengan pengkondisian batinnya sebagai titik utama bagi terwujudnya totalitas dalam wujud kekhusyukan, maka caranya serupa itu.

Dengan fokus yang penuh maka segala keraguan akan perlahan sirna. Di keheningan yang disempurnakan oleh sepinya keadaan dimana kita berada, maka kita bisa memulai dengan cara menghentikan jalan indera, membuka mata batin dan pendengaran. Selanjutnya adalah menyelaraskan hati dengan alam malakut. Melalui batin yang amat halus lafaz ‘’Allah, Allah, Allah’’ biar melantun secara terus menerus dalam hati sampai kita tidak menyadari diri sendiri dan alam sekeliling kita, sehingga yang terlihat hanyalah (tanda-tanda) Allah SWT saja. Cahaya langit itu biarlah melintasi pikiran. Untuk apa yang tak terasakan akan terasakan, untuk yang tak terlihat akan terlihat. Cahaya itu adalah kegaiban yang memang nyata adanya. Dianugerahkan dan menjadi hidayah bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Cahaya dari langit itu akan menghampiri pikiran yang mang berkehendak dan yang dikehendaki-Nya.

Pada persenyawaan batin yang terjadi, tak ada lagi kemuskilan. Akan terlihat nyata oleh mereka yang memang dikehendaki-Nya untuk bisa berjumpa dengan ruh-ruh malaikat dan nabi-nabi serta bentuk-bentuk yang indah lagi agung. Demikian juga kerajaan-kerajaan langit dan bumi akan terkuak baginya. Begitu nikmatnya keheningan saat berpadu dengan doa para hamba di sepertiga malam akhir. Sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-An’am ayat 75: ‘’Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda (kerajaan) langit dan bumi’’.

Dalil di atas mempertegas bahwa ilmu-ilmu para nabi diperoleh melalui jalan itu, jalan keheningan dimana ibadah menjadi syarat. Dalam pertemuan keheningan, proses penginderaan tak menjadi yang utama. Ini sesuai firman Allah SWT dalam QS. Al-Muzzammil ayat 8: ‘’Sebutlah nama Tuhan-Mu dan tekunlah beribadah kepada-Nya, setekun-tekunnya’’.(*)

Penulis adalah Widyaiswara Ahli Madya di BPSDMD Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB).

Kirim Komentar

Leave a Reply