Menjadi Aktor dalam Impian Kemajuan

Cukup Wibowo.

Oleh: Cukup Wibowo |

PIKIRAN bersungguh dengan integritas dan komitmen mutu yang dimiliki oleh setiap orang dalam suatu organisasi adalah modal terbaik untuk bisa mencapai maksud dan tujuan secara optimal.

Karena itulah para pemimpin organisasi yang visioner akan selalu menciptakan terbukanya ruang kebersamaan dengan terus mendorong dan mendukung setiap prakarsa, ide-ide, maupun lontaran gagasan kemajuan yang muncul dari pemikiran setiap orang.

Kepemimpinan visioner (visionary leadership) dapat diartikan sebagai kemampuan pemimpin dalam mencipta, merumuskan, mengkomunikasikan, mensosialisasikan, mentransformasikan, dan mengimplementasikan pemikiran-pemikiran ideal yang berasal dari dirinya atau sebagai hasil interaksi sosial di antara anggota organisasi dan stakeholders yang diyakini sebagai cita-cita organisasi di masa depan yang harus dicapai melalui komitmen semua orang yang ada di dalam organisasi itu.

Tapi, yang namanya organisasi tak ubahnya suatu entitas dinamis dengan komposisi yang jarang sekali merata baik dalam kemampuan maupun komitmen. Belum lagi dengan begitu gampangnya friksi tumbuh dan berkembang yang dipicu oleh ketidaksesuaian harapan, baik yang personal maupun kelompok kecil-kelompok kecil dalam kemajemukan pikir dan rasa yang tak bisa dielakkan.

Situasi internal yang menjadi hambatan dalam organisasi seperti yang diungkapkan oleh Francis & Woodcock (1994) dalam penelitiannya disebutkan ada beberapa hambatan umum dalam organisasi dalam pendayagunaan sumberdaya anggota organisasinya. Beberapa hambatan tersebut adalah;

(1) Stagnasi personel – (Personnel Stagnation)

Di mana orang-orang di dalam organisasi tidak mencerminkan sikap yang dapat mendorong keefektifan pengerjaan tugas dan pertumbuhan organisasi.

(2) Komunikasi yang tidak berjalan lancar – (Inadequate Communication)

Di mana visi organisasi tidak dimengerti, koordinasi antar anggota organisasi lemah, iklim organisasi rusak dan para pembuat keputusan kekurangan informasi.

(3) Tim kerja yang tidak berjalan baik – (Poor Teamwork)

Di mana orang-orang di dalam organisasi yang seharusnya dapat bekerja sama tidak dapat menjalankan perannya dalam kelompok dan menemui banyak hambatan dalam bekerja sama.

(4) Motivasi rendah – (Low Motivation)

Di mana orang-orang dalam organisasi kurang memiliki perhatian terhadap permasalahan organisasi dan kurang mengerahkan upayanya dalam mencapai tujuan organisasi.

(5) Kreativitas rendah – (Low Creativity)

Di mana ide-ide untuk pengembangan tidak dimanfaatkan secara tepat dan terjadi stagnasi dalam mengembangkan ide-ide baru.

Dengan realitas yang dihadapi oleh suatu organisasi dalam gambaran dinamika dan hambatan internalnya seperti di atas, maka diperlukan upaya gigih untuk bisa mempertemukan dua orientasi dalam persenyawaan yang ideal sekaligus harmonis, yakni orientasi kepemimpinan dan orientasi pemikiran yang bisa merespon setiap gagasan yang muncul dalam lingkungan kerja.

Pertanyaannya, siapa yang harus berada dalam ‘’upaya gigih’’ itu? Tentu semua pihak. Semua elemen. Kolektivitas tak akan menumpuhkan pada satu sisi tanggung jawab melainkan kemerataan yang terurai dalam porsi dengan proporsi yang terukur. Kolektivitas yang terpimpin dengan baik akan bisa memproduksi sinergitas yang dahsyat, yang pada gilirannya akan membuat organisasi bisa menghasilkan kegemilangan dan kejayaan dirinya.

Sebuah medan tugas yang memaparkan program dan kegiatan itu memiliki batas dan ukuran yang berkepastian. Parameter dan indikatornya jelas. Kreativitas memang diperlukan untuk makin membuat produktivitas yang dihasilkan oleh organisasi bisa berkembang lebih memuaskan. Tapi sebelum pada tahap pengembangan kreativitas hal yang mendasar bagi sebuah organisasi adalah tuntutan terhadap meratanya persepsi setiap orang dalam menerjemahkan tugas dan tanggung jawabnya sesuai kapasitas yang melekat pada dirinya.

Mimpi atas kemajuan adalah naluri yang melekat pada setiap orang. Karena pada dasarnya setiap orang itu memiliki orientasi kebaikan. Bila pada prakteknya kebaikan itu belum berwujud tentu harus dicari sebabnya. Dalam kerja kolektif, setiap orang sesungguhnya menjadi aktor penting dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab yang diembannya. Analogi seorang aktor, ia tahu apa yang menjadi keharusan untuk dilakukan. Ia juga tahu bagaimana posisi dirinya dalam skenario bersama yang dipimpin oleh seorang sutradara yang membuatnya makin mengerti bahwa tidak akan bisa dihasilkan suatu tontonan yang bagus bila dirinya justru menjadi penyumbang atas buruknya adegan. Dalam praktek peragaan sebuah organisasi, kita tak ubahnya aktor yang sedang memerankan tugas keaktoran sesuai kapasitas dan tanggung jawab masing-masing. Komitmen dan integritas diri karenanya mutlak untuk terus terbangun dan terawat dalam diri sang aktor.(*)

Kopajali, Selasa 4 Agustus 2020

Kirim Komentar

Leave a Reply