3 Hari Hilang, Bocah 8 Tahun Ditemukan Mengapung di Bendungan Sepit

Bocah 8 Tahun
Kapolsek Keruak, IPDA Nurlana bersama tim SAR Kabupaten Lotim saat mengevakuasi jenazah korban. (Foto: Lalu M Kamil AB)

LOMBOK TIMUR, LOMBOKTODAY.CO.ID – Warga Desa Sepit, Kecamatan Keruak, Kabupaten Lombok Timur (Lotim) dihebohkan dengan penemuan sosok mayat bocah 8 (delapan) tahun mengapung di Bendungan Lingkok Lamun, Desa Sepit, Kecamatan Keruak.

Penemuan mayat itu bermula pada pagi Selasa (31/8), beberapa siswa SMPN 3 Keruak yang berasal dari kampung sekitar bendungan melintas menuju sekolah yang juga berlokasi di seberang timur bendungan.

Menurut keterangan warga di sekitar TKP (tempat kejadian perkara) menyebutkan, anak-anak sekolah yang pertama melihat terdengar berteriak memanggil warga bahwa ada sosok mayat anak kaecil mengapung di tepi timur bendungan. Beberapa warga kampung Tengeh, Desa Sepit yang mendengar informasi tersebut langsung berhamburan. Ternyata benar, itu adalah mayat anak kecil. Wargapun menghubungi Kadus (Kepala Dusun) setempat.

Kabar penemuan mayat saat itu juga terdengar langsung hingga warga Kampung Dusun Kondok yang salah seorang warganya bernama Siti Aminah sudah tiga hari kehilangan putra semata wayangnya. Siti Aminah (40 tahun) dan suaminya Lalu Haeruddin (65 tahun) bersama keluarganya berlarian menuju bendungan yang jaraknya sekitar 500 meter dari tempat tinggalnya.

Dalam hitungan menit, warga yang mendengar dan penasaran dengan penemuan mayat itu, memadati pinggiran bendungan. Lalu Haeruddin dan istrinya setiba di TKP langsung memastikan bahwa sosok mayat itu adalah putra kesayangannya bernama Lalu Ahmad Faozan Azima yang sudah 3 hari 2 malam keliling dicarinya. Sontak ibu korban pingsan di tepi bendungan lantaran tak kuasa melihat jenazah buah hatinya terapung dalam kondisi sudah melepuh.

Kepala Dusun (Kadus) Sepit, Sudirman langsung menghubungi pihak Polsek Keruak. Puluhan anggota Polsek yang dipimpin langsung oleh Kapolsek Keruak, IPDA Nurlana tiba di TKP. Kapolsek Keruak pun langsung menghubungi tim SAR Kabupaten Lombok Timur (Lotim) untuk mengevakuasi jenazah. Sekitar 6 anggota SAR berseragam yang tiba sekitar 1 jam sejak penemuan langsung mengevakuasi mayat dibantu aparat Polsek Keruak menggunankan 2 kantong jenazah.

Mayat bocah itu dengan mengikutkan ayahnya, dilarikan ke RSUD Patuh Karya Keruak untuk diotopsi guna memastikan bahwa mayat itu benar adalah Lalu Ahmad Faozan Azima yang sudah menghilang sejak Minggu pagi (29/8/2021) sekitar pukul 08.00 Wita.

Ayah korban kepada Lomboktoday.co.id menuturkan, putranya meninggalkan rumah pada Minggu pagi (29/8/2021) sekitar pukul 08.00 Wita. Saat itu selepas sarapan bareng ayahnya, korban yang diketahui memiliki keterbelakangan mental minta uang jajanan. Ibunya memberikan uang sebesar Rp2.000. Berbekal uang pemberian ibunya, korban berlari meninggalkan rumahnya. Kedua orang tuanya mengaku tak berpikir lain-lain. Dia hanya memastikan bahwa putranya pergi berbelanja ke warung yang tak jauh dari rumahnya.

Ayah korban mengaku baru mencari keberadaan putranya sekitar pukul 10.00 Wita. Karena sudah 2 jam lebih putranya tak muncul-muncul. Ayah dan ibunya keliling kampung mencari. Namun hingga ke kampung tetangga tak juga ditemukan meskipun kedua orang tuanya keliling hingga malam hari. Minggu malam hingga larut malam, pencarian dilakukan namun tak juga membuahkan hasil.

Pencarian dilanjutkan pada Senin (30/8/2021) hingga jalur perdukunanpun diupayakan, toh juga hasilnya nihil. Ekspansi pencarian dengan menghubungi keluarga kerabat di luar Desa Sepit menanyakan kemungkinan ada putranya nyasar berjalan tanpa arah yang dituju. Sebab kerabat dekat korban mengetahui bocah yang akrab dipanggil Ojan itu sering berjalan sendiri tanpa tujuan yang jelas.

Namun ternyata pencarian berakhir dengan ditemukan sudah menjadi mayat. Pihak keluargapun langsung menguburkan jenazah di Komplek Pemakaman Masjid Kondok, Desa Sepit.

Ayah Faozan yang baru sebulan pulang dari Malaysia mengaku ikhlas menerima musibah ini. ‘’Saya ikhlas menerima musibah ini. Saya masih bersyukur masih bisa menemukannya meskipun sudah menjadi mayat,’’ kata pria yang berasal dari Dusun Reriu, Desa Bagik Payung Selatan, Kecamatan Suralaga, Kabupaten Lombok Timur (Lotim).

Sementara itu, Siti Aminah (ibu korban) mengaku tak menyangka jika putra tunggalnya yang setiap hari diantar sekolah ke SDLB itu harus meregang nyawa dengan cara seperti ini. Sebab katanya, tidak menduga sedikitpun kalau putranya akan pergi mandi ke bendungan. Dan dia memastikan bila anaknya tenggelam terseret arus air bendungan, serta tidak ada dugaan kesengajaan pihak lain.(Kml)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here