Ini Latar Belakang Bupati Sukiman Keluarkan Pernyataan ‘’Santri Kurek’’

Sekda Lotim dan Kepala MAN 1 Lombok Timur
Sekda Lotim, HM Juaini Taofik (kiri) dan Kepala MAN 1 Lotim, M Nurul Wathoni (kanan).

LOMBOK TIMUR, LOMBOKTODAY.CO.ID – Pernyataan Bupati Lombok Timur (Lotim), HM Sukiman Azmy pada acara apel Hari Santri Nasional (HSN) 22 Oktober lalu memang terkesan kontroversial dan masih menjadi perdebatan publik di dunia maya. Beredar pula video saat orang nomor satu di Lombok Timur itu mengeluarkan pernyataan istilah dalam Bahasa Sasak ‘’Santri Kurek’’.

Memang terkesan sangat tidak mengenakkan jika dicari terjemahan bebasnya. ‘’Santri Kurek’’ berarti santri yang tidak memiliki moral, etika, dan sopan santun. Tentu selaku pejabat publik, Bupati Sukiman hingga mengeluarkan pernyataan seperti itu bukan tanpa sebab.

Sejumlah sumber menerangkan sebab-musabab Bupati Sukiman mengeluarkan pernyataan pada sambutannya selaku Inspektur Upacara pada apel Hari Santri Nasional (HSN) 22 Oktober 2021 di Lapangan depan Kantor Bupati Lotim, karena ulah sebagian santri peserta apel yang tidak menunjukkan kedisiplinan dan kesiagaan di tengah-tengah apel sedang berlangsung. Konon ada di barisan belakang beberapa santri yang bermain-main hingga saling dorong-mendorong dengan rekannya.

Sekretaris Daerah Lombok Timur (Sekda Lotim), HM Juaini Taofik yang dikonfirmasi Lomboktoday.co.id melalui pesan WhatsApp (WA) Senin (25/10/2021) menjelaskan, Bupati Sukiman mengeluarkan pernyataan itu sebagai bentuk motivasi kepada para santri untuk lebih prima dan disiplin dalam berpenampilan saat mengikuti upacara formal, terlebih itu adalah momentum hari santri yang di dalamnya penuh dengan nuansa pesan moral sesuai kaidah ajaran agama Islam.

Bahkan lanjut Sekda, dirinya diperintahkan oleh Bupati Sukiman untuk memberikan hadiah langsung kepada beberapa santri yang telihat menunjukkan sikap kesantriannya mengikuti apel dengan seksama dan terlihat tertib, sopan dan disiplin. ‘’Bupati menugaskan kami untuk memberikan hadiah kepada para santri yang khidmat menjalankan tata upacara sebagaimana mestinya,’’ kata Sekda.

Senada dengan penjelasan Sekda, Koordinator Upacara Hari Santri Nasional (HSN) Kabupaten Lombok Timur (Lotim), M Nurul Wathoni yang juga Kepala MAN 1 Lombok Timur yang ditemui di ruang kerjanya juga membenarkan bahwa ada sebagian santri peserta apel (tanpa disebut utusan nama Pondok Pesantren), terlihat olehnya di barisan belakang yang tidak menunjukkan etika berupacara. ‘’Saya juga melihat sendiri ada peserta yang bermain dengan rekannya di belakang,’’ kata Nurul Wathoni.(Kml)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here